Pasar ‘Jaran’ di Atas Tanah Perbatasan Pamekasan-Sumenep

Pasar Jaran ramai pembeli (foto Rifqi/MM)

Pamekasan, (Media Madura) – Pasar ‘Jaran’ (bahasa Madura yang artinya Kuda) warga sekitar menyebutnya. Dalam pasar itu tidak ada satupun pedagang yang memperjualbelikan Jaran atau Kuda.

Pasar ‘Jaran’ merupakan pasar rakyat yang beroperasi di atas tanah perbatasan Kabupaten Pamekasan dan Sumenep, tepatnya di sisi barat Desa Kaduara Barat, Kecamatan Larangan, Pamekasan sedangkan di sisi timur adalah Desa Kaduara Timur Kecamatan Pragaan, Sumenep.

Sebutan pasar ‘Jaran’ bukan tanpa alasan. Di pasar itu dulu terdapat patung kuda (milik Pemkab Sumenep) dengan ukuran besar, sebagai penanda batas wilayah antara Kabupaten Sumenep dan Pamekasan, namun sekitar tahun 90-an patung itu roboh setelah diseruduk truk.

Lalu puing-puing patung kuda itu dibawa ke kabupaten paling timur Madura. Kabar yang beredar di dalam tubuh patung kuda tersebut tersimpan emas.

Hingga saat ini, pasar itu disebut pasar ‘Jaran’. Bahkan sopir mobil penumpang umum (MPU) sudah sangat beken dengan nama itu, jika penumpangnya ingin turun di pertigaan itu cukup sebut turun di ‘Jaran’, maka sopir MPU menurunkan penumpangnya di pertigaan yang tembus ke Desa Kertagena Tengah itu.

Beroperasinya, pasar rakyat itu dari pukul 04:30 WIB hingga pukul 08:30 WIB setiap hari. Tak ayal warga sekitar yang datang hanya ingin belanja buat kebutuhan dapur semisal belanja ikan segar yang baru turun dari laut.

Bukan hanya warga sekitar, warga dari desa tetangga seperti Desa Larangan Perreng, Desa Sentol, dan Desa Sendang Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep pagi-pagi belanjanya di pasar itu. Dari Kabupaten Pamekasan seperti Desa Lancar, Desa Montok, Desa Duko Timur dan Desa Kertagena Laok juga mencari kebutuhan dapurnya ke pasar itu.

Di pasar itu pula menjadi pusat perbelanjaan warga yang beraktivitas sebagai pedagang keliling atau warga sekitar menyebutnya “Blijjhaan”, pedagang ini berasal dari berbagai desa.

Dalam pasar itu terdapat pedagang sandang pangan atau aneka kebutuhan manusia mulai dari sayur-mayur. Harga sayuran di pasar itu lumayan murah sebab para pedagangnya menjual dari hasil bertani, apalagi ikan laut, ikan laut juga demikian sebab daerah itu merupakan daerah pesisir laut, pekerjaan warga kesehariannya menjadi nelayan, selain itu ada daging hingga pakaian pria dan wanita.

Anehnya, pasar itu dikelola oleh perseorangan, karena lahan pasar itu milik warga Desa Kaduara Barat, namanya Pak Rus. Pedagang setiap harinya hanya diminta retribusi sebagai ganti kebersihan pasar.

Aparatur Desa Kaduara Barat, Rofiuddin saat berbincang dengan mediamadura.com bercerita, Pemdes tidak bisa berbuat baik terkait pengembangan pasar itu, sebab hingga saat ini masih dikelola pribadi.

Sebenarnya, kata Rofik, pasar itu sudah dilirik oleh pemerintah kabupaten (Pemkah) untuk dikembangkan, namun pemiliknya tidak mengizinkan.

“Pemdes tidak bisa berbuat banyak, karena pengembangan pasar itu harus lahannya milik desa,” katanya, Minggu (9/2/2020).

Pemdes akan tetap berusaha untuk bisa ikut mengelola pasar itu, apalagi saat ini kondisinya kurang tertata.

“Lobi-lobi terus dilakukan, namun karena pemiliknya belum bisa berbagi kan tidak bisa,” tuturnya.

Reporter: Ahmad Rifqi
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.