Majelis Hakim Afrizal membeberkan barang bukti milik korban kepada Nurfaizah istri Subaidi sebagai pembuktian di ruang sidang, Selasa (29/1/2019). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Nurfaizah, istri Subaidi tak kuasa membendung air matanya saat memberikan kesaksian tentang kematian suaminya di ruang sidang Pengadilan Negeri Sampang, Selasa (29/1/2019).

Sidang perdana pembacaan dakwaan perkara dan keterangan saksi kasus dugaan pembunuhan berencana dengan cara ditembak oleh terdakwa Idris (31) itu digelar pukul 09.30 WIB.

Saat Majelis Hakim Afrizal menunjukkan barang bukti berupa tas perlengkapan pasang gigi milik suaminya, Nurfaizah berurai air mata. Ia tak kuasa menahan rasa sedihnya.

Apalagi melihat bekas pakaian korban yang kini telah meninggalkan seorang putra diusia 7 tahun serta masih mengandung anak kedua dari almarhum.

“Saudara saksi, untuk kepentingan pembuktian terpaksa saya tunjukkan ya, jadi memang membawa ini ya (korban-red), di dalam seperti ini,” kata Majelis Hakim membeberkan tas milik Subaidi.

Melihat tas milik orang yang paling dicintai itu, Nurfaizah lantas menangis tersengguh-sengguh. Lalu, ia berdiam beberapa detik menjawab pertanyaan majelis hakim.

“Iya,,,” jawab Nurfaizah kepada hakim.

Sebelum pembuktian barang milik korban. Nurfaizah menceritakan tentang semasa hidup suaminya sampai korban menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit Dr. Soetomo Surabaya pada 22 November 2018.

Terdakwa Menolak Eksepsi

Sidang perdana dipimpin Ketua Majelis Hakim Budi Setyawan ini, istri Subaidi, Nurfaizah dan ayah korban, Bahruji (60) memberikan keterangan saksi. Terdakwa Idris (31) warga Desa Tamberu Laok Kecamatan Sokobanah itu berada sebelah kanan para saksi.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Anton Zulkarnaen, menyampaikan sidang perdana dengan dua agenda itu akan kembali dilanjutkan pada Rabu (30/1) besok. Agenda sidang masih dengan keterangan saksi.

“Kita menyiapkan 12 saksi, sementara masih 2 saksi yaitu istri dan ayah korban, besok kita lanjutkan, nanti kita hadirkan saksi seperti dari pihak penyidik,” jelasnya.

Menurut Anton, sidang pembacaan dakwaan perkara itu tidak ada eksepsi dari terdakwa dan penasehat hukum. Lantaran Idris yang terlibat kasus pembunuhan ini membenarkan dalam dakwaan.

Dirinya menambahkan, Idris didakwa pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 338 tentang menghilangkan nyawa orang secara sengaja dan Pasal 351 ayat (3) tentang penganiayaan, dan Pasal 1 Ayat (1) Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

Sementara itu, Kuasa Hukum Terdakwa Arman Syaputra, mengakui bahwa Idris tidak mengajukan eksepsi karena terdakwa ingin kasus tersebut segera berlanjut kepada materi pokok. Sebab, ada beberapa hal yang perlu diutarakan dalam materi pokok.

Pertama, sumber persoalan pembunuhan dari laman akun facebook. Namun faktanya, lanjut Arman, terdakwa tidak pernah melakukan unggahan video yang disangka menghina ulama.

Kedua, laman facebook terdakwa dibajak orang lain. Hal ini dikuatkan dengan bukti laporan polisi. Lalu, terdakwa sudah meminta maaf kepada ulama bahwa terdakwa tidak pernah melakukan penghinaan terhadap ulama di Sampang.

“Persoalan dia (terdakwa-red) melakukan pembunuhan itu nanti kita buktikan di persidangan selanjutnya,” ungkap Arman.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Ist

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.