Moh Hafidurrahman (Dosen IAI Al-Khairat Pamekasan)

Jiwa Patriotisme harus dimiliki oleh setiap pribadi penduduk Nusantara untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Patriotisme harus terpatri sejak dini dan harus ditanamkan sejaka dini kepada anak didik kita dalam rangka menyiapkan generasi Nusantara Indonesia yang unggul dan setia kepada Nusa dan Bangsa.

Pelajaran nilai-nilai patriotisme tentu patut kita acungkan jempol kepada Jenderal kita, jenderal Sudirman yang akrab dipanggil Pak Dirman. Patriotisme kebangsaan jenderal yang satu tidak dapat diungkiri lagi bagaimana Indonesia menjadi Bangsa yang terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang selama lebih dari 3,5 abad. Perjuangan dan perngorbanannya yang begitu luar biasa, benar-benar menajdikannya pahlawan tanpa tanda jasa, tanpa pamrih, tanpa keserakahan terhadap harta dan jabatan. Baginya kemerdekaan bangsa Indonesia adalah nomor wahid yang harus diperjuangkan sampai detak nadi berakhir, walaupun dia harus bergerilya dari satu hutan ke hutan yang lain, dari gunung yang satu ke gunung yang lain dengan ditandu karena hanya punya satu paru-paru. Dia ingin menunjukkan pada Dunia bahwa Marwah Indonesia itu besar, bahwa kemenangan bukan terletak pada kecanggihan senjata, kuantitas prajurit, tapi persatuan dan loyalitas yang tinggi akan membuahkan sebuah kemenangan.

Sejengkal tanahpun tidak akan kita berikan kepada lawan,
Tapi akan kita pertahankan habis habisan,
Meskipun kita tidak gentar kepada lawan,
Tapi kita harus tetap siap sedia.

(Jenderal Soedirman)

Kalimat sederhana diatas menggambarkan jiwa besar rasa Nasionalisme-patriotisme sang jenderal dalam menjaga dan memperjuangkan segala jengkal tanah di negeri ini agar tidak tergadaikan kepada Asing. Patut kita teladani bahkan kita jadikan prinsip dalam hidup berbangsa dan bernegara. Jenderal Soedirman memang tidak mewariskan harta kepada bangsa ini tapi dia sudah mewariskan hal–hal jauh lebih besar dan lebih bertabat untuk menjadi manusia yang mulia, nilai nilai kebangsaan yang tak akan pernah lusuh, terukir dengan tinta emas dalam sejarah besar kemerdekaan bangsa Indonesia.

Setidaknya ada dua Nilai Patriotisme yang patut diteladani oleh kita bukan hanya kita sebagai prajurit, tapi kita semua para remaja, kaula muda, para guru, para orang tua, bahkan para pemangku jabatan di negeri tecinta ini. Nilai patriotism kebangsaan dan nilai-nilai patriotisme Agama.

Dalam Nilai kebangsaan setidaknya ada tiga hal yang dapat kita teladani
Pertama, nilai nasionalisme tanpa pamrih. Disaat dia terkena penyakit tuberculosis yang semakin parah menggerogoti paru-parunya, seharusnya Jenderal Sudirman memilih untuk tinggal di ibu kota dan melakukan pengobatan dengan baik. Namun, Kecintaannya kepada Tanah Air menghilangkan rasa sakit dari tubuhnya, Cita-citanya mengalahakn rasa sakit yang ia derita, Ia terus berjuang, hanya demi memastikan dan mengusahakan hengkangnya penjajah dari bangsa yang dia cintai, tanpa mengharap apapun, kecuali para penjajah angkat kaki dari negerinya.

Kita dapat liat semangat nasionalisme dan cara menanamkan nilai nilai nasionlisme kepada bawahannya, dapat kita pahami dan renungkan seperti apa yang ditunjukkan oleh jenderal Sudirman dalam pidatonya.

“Anak-anakku, tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran Tanah Airmu. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapapun juga.” (Panglima Besar Jenderal Sudirman).

Sungguh penanaman rasa nasionlisme tingkat tinggi yang tanpa pamrih telah ditunjukkan oleh jenderal besar Sudirman.

Kedua, nilai kesederhanaan. Pasca perjanjian Roem Royen, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan pakaian kebesaran kepada Pak dirman, namun dengan bijak dan santun Jenderal Sudirman menolaknya. Ia lebih memilih pakaian sederhana, tanpa pakaian kebesaran. Baginya kebesaran bukan terletak pada pakaian tapi jiwa patriotism harus dipertebal. Beginilah nilai kesederhanaan yang diwariskan Jenderal Sudirman kepada kita. Sebagai seorang pemimpin, dia tampil apa adanya, Dia tidak ingin ada sekat antara dia dan rakyatnya.

Ketiga, nilai visioner. Taktik perang gerilya yang dailakukan oleh Jenderal Sudriman adalah cara Sudirman menunjukkan eksistensi prajurit Indonesia pada dunia. Ia ingin menampakkan pada dunia bahwa, Perjuangan Indonesia tidak akan pernah surut, bahwa Indonesia sudah pantas menajdi negara yang merdeka, bahwa dengan adanya prajurit formal (TNI) menunjukkan kehadiran sebuah negara. Inilah bagaimana nilai visioner yang ditunjukkan oleh Jenderal besar Sudirman kepada kita.

Sedangkan dalam nilai-nilai patriotisme keagamaan yang dapat kita ambil ibroh dari sang Jenderal adalah niali keistiqomahan. Ada nilai istiqomah yang kuat pada diri Jenderal Sudirman sehingga dia berbudi yang luhur dan disegani. Pertama, dia istiqomah selalu berdzikir kepada Allah Subahanu wata’ala. Walaupun bibirnya tak bergeming, tapi hati dan lisannya selalu basah dengan dzikir. Kepassrahan dan ketawakkalan kepada Allah, menjadikannya pribadi yang mulya. Kedua, dia istiqomah Sholat lima waktu tepat waktu. Dia selalu berpegang bahwa sholat itu tiang Agama, jika tiang-tiang itu kokoh maka semakin kokoh seseorang dalam menjalani hidup ini, dia tetap berperinsip bahwa “afdolul a’mal assolatu fii awwali waktihaa” paling mulyanya amal, adalah sholat pada awal waktu. Maka dalam situasi apapun dia selalu sholat awal waktu. Bahkan dalam bergerilya sekalipun dia tetap melaksanakan sholat. Ketiga, dia istiqomah dalam menjaga kesucian diri atau berwudhu’. Walaupun air secukupnya tapi Islam agama yang mudah, ada cara lain walau tanpa air yaitu dengan tayyammum. Seseorang tidak tidak akan mampu melaksanakan tiga nilai keagamaan ini tanpa perjuangan melawan hawa nafsu diri kita sendiri. Inilah yang membuat Jenderal Sudirman mempunya karomah yang luar biasa dalam melawan Belanda, dia memang tidak menginginkan karomah ini, tapi keistiomahannya membawa dirinya memiliki karomah-karomah dari Allah SWT. Sebagai seorang Ulama berkata : Uthlubil Istiqomah wa laa tathlubil karomah, lianal Istiqomah Ainul Karomah.

Yang artinya : Carilah istiqomah, jangan cari karomah. Karena Istiqomah yang membawa karomah).

Perjuangan gerilya yang dilakukan oleh jenderal Sudriman ini mungkin mirip dengan falsafah ukhrowi orang Madura yaitu “Abental Syahadah asapok Iman apajung Allah (Baca: berbantal Syahadah berselimut Iman dan berpayung Allah).

Pertanyaannya siapakah guru Jenderal Sudirman? Mereka adalah Kiai Busyro Suhada’ Banjarnegara, Kiai Subchi Temanggung (Kiai Bambu Runcing), termasuk juga Mbah Hasyim Asy’ari. Ternyata guru guru Jenderal Sudriman adalah orang-orang besar. Berarti guru yang besar akan melahirkan murid yang besar. Maka bergurulah kepada orang-orang ‘besar’.

Penulis: Moh Hafidurrahman (Dosen IAI Al-Khairat Pamekasan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.