Pamekasan, (Media Madura) – Angka perceraian di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, tinggi, hal itu dipengaruhi oleh dua faktor yakni persoalan ekonomi dan perselingkuhan.

“Faktor pasutri mengajukan gugatan cerai bermacam-macam, tapi yang paling dominan alasannya adalah faktor ekonomi, kemudian perselingkuhan dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT),” kata Ketua Pusbakum Justitia Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Pamekasan, Abd Waris, Kamis (16/8/2018).

Selama tahun 2018 terhitung sejak bulan Januari hingga Juli tercatat sebanyak 558 perkara yang masuk kepada Pengadilan Agama (PA) setempat.

“Setiap bulan jumlah Pasangan Suami Istri (Pasutri) yang mengajukan gugatan cerai rata-rata sebanyak 50 perkara, baik cerai talak atau cerai gugat, itu yang menyebabkan tingginya angka perceraian,” tambah Waris.

Waris menambahkan, pasutri harus mempertimbangkan secara matang apabila memutuskan untuk bercerai. Meskipun di dalam Islam perceraian itu diperbolehkan, tetapi masuk pada perkara yang dibenci, sebab pernikahan merupakan status sakral yang tidak boleh dipermainkan.

“Ini penting untuk selalu diingat oleh pasutri untuk menekan angka perceraian. Nikah itu bukan hanya kebutuhan biologis, melainkan kita harus menerima kekurangan dan kelebihan dari pasangan kita,” tandasnya.

Waris mendesak agar ada peran serta Kantor Urusan Agama (KUA) di setiap kecamatan dan pemerintahan desa untuk menekan angka perceraian di Kabupaten berslogan Gerbang Salam tersebut.

Reporter: Rifqi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.