Bangkalan, (Media Madura) – Namanya Magician Madura Lovers, satu kelompok pesulap di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Artoyo, 65 tahun, mantan wartawan Jawa Pos hingga 1989, jadi orang yang dituakan di komunitas ini. Menarik menyimak cerita Artoyo bagaimana dia alih profesi dari jurnalis menjadi pesulap.

Suatu kali, saat masih jadi wartawan. Artoyo nongkrong di alun-alun Bangkalan. Dia mendapati seorang wanita warga Desa Jaddih, Kecamatan Socah menangis sesenggukan.

Wanita itu habis ditipu orang, uang hasil jual perhiasan untuk biaya berangkat ke Arab Saudi, yang disimpan dalam tasnya berubah jadi daun. Kepada warga yang mengerubunginya, wanita itu mengaku baru kena gendam atau hipnotis oleh seorang lelaki.

Peristiwa itu menggugah Artoyo. Dia pun bertekad belajar dunia sulap. Setelah berhasil, dia pun menyebarkan ilmu sulap lewat komunitas. Tujuannya agar lebih banyak orang tahu dan memahami dunia sulap sehingga tidak mudah tertipu.

“Setelah belajar sulap, saya baru tahu wanita itu bukan kenapa gendam. Tapi kena tipu oleh trik kecepatan tangan mengubah daun jadi uang, itu sangat mudah,” kata Artoyo, Minggu, 15 April 2018.

Pilihan hidup Artoyo kini membuahkan hasil. Anggota Magician Madura Lovers mencapai puluhan orang. Bahkan ada dari luar Bangkalan seperti Probolinggo dan Bojonegoro.

Latarbelakang anggotanya pun beragam. Kaum hawa pun bergabung. Ada guru, mahasiswa, ustad hingga pesilat. Bahkan, salah satu anggota bernama Humaidi, kini berkarir di Alaska. “Banyak yang lebih hebat dari saya,” tutur Artoyo.

Kegiatan pesulap Madura ini tak sebatas dunia sulap. Seperti tampak Ahad pagi, di rumah makan Sri Rejeki Bangkalan. Artoyo juga mengajari anggotanya hipnoterapi. Mereka diajari cara menghipnotis orang untuk keperluan pengobatan.

“Hipnotis itu sama sekali tak ada mantranya, murni memanfaatkan alam bawah sadar dengan sugesti,” terang Artoyo.

Hipnoterapi untuk Pendidikan

Dari sekian banyak peserta, sosok Idalaila menarik perhatian. Bukan karena hanya dia wanita, tapi juga karena dia seorang guru dan menyandang gelar Magister Pendidikan dari Unitomo Surabaya.

Kata Ida, dia ingin menggunakan hipnoterapi untuk mensugesti murid-muridnya agar giat belajar dan rajin membaca. Keinginan itu muncul karena dia selama puluhan tahun mengajar di sebuah SD di pelosok desa.

Dia mendapati kenyataan, murid-muridnya di kelas V begitu sulit memahami pelajaran. Setelah didiagnosa, ternyata adalah satu pelajaran yang tidak tuntas yaitu membaca. Murid-muridnya banyak yang belum lancar membaca dan memahami isinya.

Karena itulah, kepada kepala sekolahnya, Ida minta pindah dari Wali Kelas V ke kelas 1. Dia ingin semua siswa di kelas 1 tuntas pelajaran membaca. Dia pun mewajibkan muridnya membaca sebelum pelajaran dimulai dan sebelum istirahat.

“Buku itu jendela ilmu, kalau tidak fasih membaca, murid-murid tak akan cakap menangkap pelajaran,” kata dia.

Sejak dua bulan lalu, Ida pindah mengajar di SD wilayah perkotaan. Masalah yang dia hadapi berbeda. Kalau di murid di desa terkendala membaca. Kalau murid di kota terkendala candu game.

Dia berharap, dengan hipnoterapi, dia bisa mengurangi kecanduan siswa pada gadget. “Saya cuma ingin semua murid saya pintar, apa pun caranya akan saya coba,” ungkap dia.

Promosi Lewat Loper

Untuk mempromosikan keberadaan Magician Madura Lovers, salah satunya menyebar selebaran lewat loper koran. Tiap koran diselipkan brosur MML.

Sekira dua bulan lalu, salah satu brosur itu ditemukan Sudarmawan, mantan Kepala BPBD Jatim dan kini mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Bangkalan bersama politisi senayan Farid Alfauzi. Terselip pada koran yang dibelinya.

Sudarmawan tertarik dengan isi brosur dan kemudian menghubungi pengurusnya untuk bertemu dan berdiskusi.

Dari situ, Sudarmawan baru tahu kalau MML belum berbadan hukum. Dia pun menyarankan pengurus agar MML berbadan hukum agar APBD bisa mengintervensi.

“Kalau tak berbadan hukum, pemerintah tak bisa beri bantuan dana atau program yang bisa menopang ekonomi dan meningkatkan kemampuan para pesulap,” kata dia.

Selain komunitas pesulap, Sudarmawan juga menggarap komunitas odong-odong dan loper koran. Persoalan yang ditemukan sama yaitu belum berbadan hukum. Menurut dia, keberadaan komunitas ini kerap terabaikan oleh pemerintah.

Padahal, kata dia, jika dibina dengan baik, komunitas tersebut bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan menyerap banyak tenaga kerja.

“Bahkan menurut Bank dunia, UMKM itu paling tahan banting karena tidak terpengaruh permasalahan ekonomi global,” kata dia.

Penulis : Mukmin Faisal
Editor : Ist

Tinggalkan Balasan