Tersenyum: (dari kiri) Noer Tjahja mantan Bupati Sampang berpose bersama istri Winahyu Noer Tjahja serta mantan Dirut PT SMP Hari Oetomo (kanan) usai dinyatakan bebas di Lapas Medaeng Surabaya, Selasa (27/3/2018). (Abdul Aziz for MM).

Sampang, (Medua Madura) – Mantan Bupati Sampang Noer Tjahja dinyatakan bebas setelah menjalani hukuman 5 tahun penjara terkait kasus korupsi pengelolaan gas di PT Sampang Mandiri Perkasa (SMP).

Noer Tjahja mantan bupati periode 2008-2013 itu keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Medaeng Surabaya, Selasa (27/3/2018) siang.

“Ya, Alhamdulillah Pak Noer Tjahja hari ini dinyatakan bebas setelah menjalani hukuman di Medaeng Surabaya, info ini dikabari langsung sama Bu Win melalui pesan singkat,” kata Abdul Aziz Agus Priyanto warga Sampang.

Abdul Aziz aktivis Gardu Demokrasi itu menuturkan, Noer Tjahja dinyatakan bebas bersama mantan Dirut PT SMP Hari Oetomo usai bersama-sama menjalani hukuman selama 5 tahun penjara.

Dirinya berharap, bebasnya Noer Tjahja menjadi dampak pembelajaran bagi pejabat pemerintah lainnya agar berhati-hati dalam memberikan kebijakan. Namun, disisi lain perlu banyak penerapan ilmu dari sosok Noer Tjahja selama memimpin Kabupaten Sampang yang dikenal sebagai bapak pembangunan.

“Kedepan ini khususnya tiga pasangan calon di Pilkada Sampang harus banyak belajar kepada beliau, bagaimana membangun sektor infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan di Sampang, karena Pak Noer banyak mewariskan disini terutama Poltera, keberadaan BUMD, dan penyulingan air di Mandangin,” ujarnya.

Sekedar diketahui, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya memvonis tiga terdakwa kasus korupsi pengelolaan gas PT SMP, pada Juni tahun 2015 lalu.

Ketiganya adalah Noer Tjahja selaku mantan Bupati Sampang, Hari Oetomo selaku Dirut PT Sampang Mandiri Perkasa (PT SMP). Mereka divonis 5 tahun penjara serta denda Rp 250 juta.

Sedangkan, Muhaimin selaku Direktur PT Sampang Mandiri Perkasa (PT SMP) divonis 10 tahun penjara dengan denda Rp 400 juta.

Perkara korupsi yang dilakukan Noer Tjahja terjadi pada saat dirinya menjabat sebagai Bupati Sampang tahun 2008 lalu. Noer menandatangani perjanjian (MoU) suplai migas dengan PT Asa Perkasa.

Untuk memuluskan pengelolaan migas, Noer Tjahja membuat PT SMP dengan komposisi saham PT Asa Perkasa 60 persen dan 40 persen saham milik PT Geliat Sampang Mandiri (GSM) atau menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Setelah rampung, Pemkab Sampang mengajukan pasokan gas ke SKK Migas. Pengajuan ini ditolak karena syarat mendapat pasokan gas harus BUMD. PT SMP tidak dikategorikan sebagai BUMD lantaran mayoritas sahamnya dipegang PT ASA.

Untuk memuluskan rencananya, Noer Tjahja kemudian menerbitkan Perda untuk memayungi pendirian PT SMP. Komposisi sahamnya juga diubah, PT GSM memegang 51 persen saham dan PT ASA 49 persen.  Dengan perubahan tersebut PT SMP masuk dalam kategori BUMD dan permohonan pasokan gas dari SKK Migas disetujui. 

Selanjutnya, dalam pengelolaannya, keuntungan dari penjualan migas ada yang bocor hingga Rp 16 miliar. Disebutkan dalam dakwaan, sebagian dana tersebut mengalir ke kantong Noer Tjahja. Selain kebocoran keuangan BUMD, penjualan harga gas dinilai tidak wajar. 

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan