Ibnu Hajar

Pamekasan, (Media Madura) – Salah satu penyair asal Madura, Ibnu Hajar, menjadi salah satu penyair yang didapuk sebagai pembaca puisi dalam resepsi perayaan Hari Pers Nasional (HPN) yang digelar di Padang pada 7 Februari lalu.

Istimewanya, seniman kelahiran Kabupaten Sumenep ini membacakan puisi karyanya sendiri yang telah dimuat dalam buku antologi puisi “kumpulan puisi wartawan Indonesia Pesona Ranah Bundo”.

Dalam resepsi HPN yang dihadiri oleh Presiden RI, Joko Widodo ini, Ibnu Hajar yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua PWI Kabupaten Sumenep ini membaca puisi dengan judul “Pantai Air Manis Kupahat Ombakmu di Teras Matahari”.

Kepada mediamadura.com, Ibnu yang juga menjabat sebagai pimpinan redaksi radio Nada FM Sumenep ini, mengaku senang karena berkesempatan membacakan puisi dalam ajang terbesar dan dihadapan wartawan dari seluruh Indonesia.

Inilah salah satu puisi yang dibaca oleh salah satu penyair produktif di Madura tersebut :

Pantai Air Manis Kupahat Ombakmu di Teras Matahari

Oleh : Ibnu Hajar

Pernik-pernik malam menyeruap lewat balutan desah.
Di antara nafas gelombang yang panjang
Serasa termaknai bersama kelam sinar rembulan.
Nafsu, ciuman lusuh dan gairah yang tak pernah tuntas
Kelebat lanskap pantai air manis dalam warna tembaga
Telah menjelma panorama mimpi dan geliat perjalanan

Selamat datang di alam benda dalam kilatan air mata
Igau embun diantara getir yang selalu manis
Ditengah dahaga yamg tak kerontang

“Sungguh tak dapat kupahami ringkik kebisuan. Sebab, di sini ada banyak pantai dengan selaksa mimpi,” ucapmu dengan tarian bibir yang selalu basah dengan doa.

Walau kita telah membangun kota-kota dibalik malam dari sudut pantai Carolina hingga pantai Nirwana
Aku peluk kau tanpa persekutuan rembulan yang ditinggalkan guguran senja

Namun kita masih bisa membayangkan kesuburan kelopak-kelopak jiwa
yang lebih beku dari batu-batu di lambung pantai air manis

Tengadahlah dalam tarian angin
Di antara kegersanfan khayal merembes nadi
Dari detak-detak sukma
Lewat pantai, perahu-perahu karam
Mengendus di balik pasir yang makin kental dari masa lalu yang sempurna.

Perjamuan kita esok hari telah habis terserap embun senja
Namun pelukan kabut terus menyempurnakan kesabaran jauh ke dalam lembah doa
Walau nanar laksana usia cinta yang tak lepas dahaga.

Penulis : Ist
Editor : Arif

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.