Aksi solidaritas untuk almarhum Budi diikuti ratusan di Mapolres Sampang, Kamis (8/2/2018). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Ratusan massa menggelar aksi solidaritas meninggalnya Ahmad Budi Cahyanto, guru kesenian SMA Negeri 1 Torjun, yang dianiaya oleh muridnya sendiri.

Aksi solidaritas ‘Duka Budi Duka Guru Kita’ ini di mulai dengan shalat gaib dan doa bersama di depan kantor Kepolisian Resor Sampang, Madura, Jawa Timur, Jalan Jamaluddin, Kamis (8/2/2018) pagi pukul 08.00 WIB.

“Kami hanya mensupport kinerja aparat penegak hukum dan meminta perkara ini tanpa terpengaruh intervensi dari pihak manapun, termasuk statement Bupati Sampang beberapa waktu lalu yang meminta pelaku bernama Holili
agar direhabilitasi,” kata korlap aksi solidaritas guru Budi, Moh Salim, Kamis (8/2/2018).

Aksi solidaritas untuk almarhum Budi diikuti ratusan di Mapolres Sampang, Kamis (8/2/2018). (Ryan Hariyanto/MM).

Dalam aksi tepat ketujuh harinya meninggalnya almarhum Budi, diwarnai histeris saat massa memanjatkan doa. Mereka terharu karena meninggalnya guru seni rupa itu membuat duka yang mendalam bagi masyarakat termasuk keluarganya.

“Apalagi saat ini istri korban dalam kondisi hamil usia lima bulan, dulu juga pernah keguguran di usia lima bulan, tapi kini malah suaminya yang gugur,” teriak koordinator aksi untuk wilayah Kabupaten Sumenep, Tsabit disambut gemuruh takbir.

Menurut Moh Salim, penegak hukum perlu menerapkan pasal terhadap pelaku pembunuhan Ahmad Budi Cahyanto dengan pasal alternatif yakni pasal 338 KUHP. Sebab, jika hanya pasal 351 ancaman pidana 7 tahun penjara.

“Aparat hukum agar menegakkan restorative justice sehingga terwujud keadilan bagi korban dan efek jera kepada pelaku, sekaligus agar ada pemulihan hubungan antara keluarga korban dan pelaku sehingga tidak terbangun dendam setelah hukum ditegakkan sebagai sifat jangka panjang,” tuturnya.

Massa aksi solidaritas ini meliputi beberapa komponen. Diantaranya, dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) se Madura, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kahmi, GMNI, persatuan guru sukwan, pelajar, rekan-rekan kuliah korban, pegiat hukum, tokoh agama, ulama, dan tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.

Usai berorasi di Mapolres, massa melanjutkan longmarch ke kantor Kejaksaan Negeri Sampang. Hasilnya, aparat penegak hukum menyepakati penerapan pasal terhadap pelaku adalah pasal primer yakni 338 subsider pasal 351 KUHP.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman, membenarkan ada perubahan pasal yang diterapkan kepada pelaku pembunuhan dari sebelumnya pasal 351 ayat 3 menjadi pasal 338 KUHP. Perubahan dilakukan setelah ada desakan advokat atas aksi ini.

“Ya sudah ada perubahan, kami sampai saat ini masih terus melakukan penyidikan perkara Budi,” tutupnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.