Anggota DPD RI Ahmad Nawardi meninjau garam rakyat di Kabupaten Sampang, Senin (29/1/2018). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RI Ahmad Nawardi melakukan sidak ke gudang garam di Desa Ragung, Kecamatan Pengarengan, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Senin (29/1/2018) pukul 11.30 WIB.

Hal ini dilakukan untuk memastikan stok garam rakyat yang dinilai telah habis oleh Menteri Perdagangan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Hasilnya diketahui, stok garam rakyat di Sampang masih ada baik garam jenis KW I, KW II, dan KW III.

“Kami ingin membuktikan apa benar stok garam rakyat habis, ternyata masih banyak, kita akan laporkan nanti ke pemerintah pusat,” kata Mawardi, Senin (29/1/2018).

Dijelaskan Mawardi, dalam sidak ini menyusul pemerintah melakukan impor garam sekitar 3,7 juta ton. Untuk itu, dirinya meminta Kementerian Perdagangan dan KKP turun langsung memastikan stok garam ke gudang garam di Sampang, Madura.

“Turun kesini agar tidak seenaknya mengambil kebijakan impor garam, masak impor sampai 3,7 juta ton ini terbesar sepanjang sejarah pergaraman di Indonesia, apalagi kualitas garam rakyat di Sampang kualitasnya bagus, putih seperti salju, lebih bagus dari garam impor,” tegasnya.

Seharusnya, lanjut Nawardi, pemerintah menyerap terlebih dahulu garam rakyat sampai habis. Jika masih ada kekurangan baru bisa mengimpor.

Selain itu, dirinya menolak kebijakan pemerintah tersebut termasuk rencana tahun 2019 untuk melakukan swasembada garam. Sebab, apabila impor garam terus dilakukan, maka garam rakyat akan mati di pasaran dan tidak akan ada lagi tambak garam di Madura.

Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Garam RI, Jakfar Sodikin, di Sampang mengaku menolak impor garam dari Australia dan India. Karena kebijakan ini tidak memperhatikan nasib petani garam.

“Kami menolak impor demi menyelamatkan petani garam, kualitas garam rakyat di Sampang tidak kalah dengan garam impor,” ungkapnya.

Menurut Jakfar, informasinya dari petani garam, impor garam Australia dan India akan tiba ke Surabaya. Garam yang dari Autralia akan tiba ke Surabaya, kemungkinan 30 Januari. Sedangkan dari India pada 2 Februari mendatang.

Harga garam impor dari Australia Rp 650 per kilogram. Bahkan harga garam impor dari India lebih murah lagi, hanya Rp 400 per kilogram. Sedangkan garam rakyat Indonesia, saat ini senilai Rp 2.700 per kilogram.

“Jadi harganya selisih jauh, harga garam rakyat akan anjlok bisa kemungkinan hanya Rp 1.000-1.500 per kilogram, sebenarnya barometer harga garam rakyat di Indonesia itu mengacu harga di Madura,” tandasnya.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Ist

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.