Sampang, (Media Madura) – Angka pengangguran di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, terbilang cukup tinggi. Kurangnya lapangan pekerjaan untuk menyerap tenaga kerja menjadi faktor utama ribuan jiwa penduduk Kota Bahari itu menganggur.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sampang mencatat selama tiga tahun terakhir angka pengangguran tinggi. Ditahun 2014 terdapat 8.469 orang tidak bekerja, tahun 2015 naik menjadi 21.826 jiwa. Kemudian ditahun 2016 angka pengangguran menurun menjadi 11.018 jiwa.

Selain angka pengangguran tinggi, data tersebut seolah berbanding lurus dengan angka kemiskinan. Pendataaan terakhir pada 2016 terungkap bahwa angka kemiskinan mencapai 499.801 jiwa dari total penduduk 916.577 jiwa.

“Keberadaan lapangan pekerjaan di Sampang belum banyak mempekerjakan warga lokal, serta kualitas sumber daya manusia (SDM) masih rendah, faktor inilah menyebabkan angka pengangguran maupun angka kemiskinan tinggi,” terang Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana, Selasa (31/10/2017).

Kata Amin, Pemerintah Kabupaten Sampang juga belum mampu membantu menyediakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat. Sebab, selama ini tidak ada investor masuk menanamkan modal usaha di Sampang.

Untuk itu, dirinya meminta pemerintah ikut andil dalam mengentaskan angka pengangguran dan kemiskinan. Salah satunya dengan cara menjalankan program pelatihan kerja dalam mencetak tenaga kerja yang handal sesuai kebutuhan perusahaan.

“Kalau ada investor di Sampang sangat berpeluang menyerap tenaga kerja, seharusnya Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Diskunaker) mempertimbangkan itu,” kata Amin.

Kepala Bidang Penempatan dan Pengembangan Tenaga Kerja Diskunaker Sampang, Bisrul Hafi mengakui pihaknya belum bisa menyediakan lapangan kerja. Selama ini instansinya hanya memberikan pelatihan kerja. Itu sebagai bekal bagi warga untuk mencari atau melamar pekerjaan.

Tak hanya itu, menurut Bisrul, tingkat perkembangan penduduk dan jumlah lulusan siswa tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan. Hal itu juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka pengangguran di Kota Bahari. Buktinya, per tanggal 20 Oktober 2017 jumlah pemohon kartu kuning 360 orang.

Rinciannya, 250 warga kategori tenaga kerja produktif atau siap kerja. Sedangkan 110 kategori tenaga kerja nonproduktif atau pekerja panggilan. Dari jumlah tersebut, hanya 135 pemohon yang sudah diterima bekerja di perusahaan.

“Maka itu untuk menekan angka pengangguran harus bersama baik pemerintah dan masyarakatnya,” tandasnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.