Dugaan Praktik Pungli Mutasi Siswa SMP Terjadi di Sampang

Sampang, 1/8 (Media Madura) – Proses perpindahan (mutasi) siswa memang tidak dikenakan tarif biaya alias gratis. Mengingat, mutasi siswa sifatnya mudah dilakukan. Jika seluruh persyaratan mutasi telah dipenuhi, seperti surat rekomendasi atau surat lainnya, siswa bisa langsung melanjutkan pendidikan di sekolah tujuan.

Kenyataannya, praktik dugaan pungutan liar (pungli) mutasi siswa terjadi di lembaga Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Sokobanah Kabupaten Sampang. Orang tua siswa justru dikenakan biaya sebesar Rp 700 ribu saat mengurus perpindahan siswa.

“Waktu ngurus pindahan keponakan dikenakan biaya Rp 700 ribu itu pun dikasih kwitansi lengkap dengan stempel nama lembaga sekolah,” kata Sidik paman siswa Nur Fadilah, Selasa (1/8/2017).

Sidik merupakan aktifis Ketua Jaka Jatim Koorda Sampang itu menuturkan, praktik dugaan pungli terjadi ketika Nur Fadilah siswa kelas IX SMP Negeri 1 Sokobanah ingin pindah pendidikan ke salah satu Pondok Pesantren di Kabupaten Sumenep. Namun, proses mutasi tersebut dimanfaatkan oleh oknum sekolah yang meminta sejumlah dana sebelum siswa diterima di sekolah tujuan.

“Inikan lucu padahal perpindahan siswa sebenarnya gratis, alasan pihak sekolah diperuntukkan administrasi,” ujarnya.

Sidik akrap disapa Didik mengaku kecewa kebijakan lembaga sekolah yang menerapkan praktik dugaan pungli berkedok administrasi proses perpindahan siswa. Untuk itu, pihaknya berencana akan melaporkan ke Dinas Pendidikan serta penegak hukum.

Kepala SMP Negeri 1 Sokobanah Mahmudi, saat dikonfirmasi membenarkan penarikan tersebut. Bahkan, dirinya mengklaim penarikan biaya terhadap siswa mutasi dilakukan tanpa ada paksaan dari keluarga wali murid. Biaya itu diperuntukkan hanya untuk kepentingan lembaga sekolah.

“Tapi saya sudah kembalikan kok sama orang tua siswa, dan mohon agar informasi ini tidak dipublis,” singkatnya.

Kepala Bidang Kesiswaan Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang Moh Jalil belum bisa memberikan keterangan karena nomor telepon yang biasa dihubungi bernada tidak aktif.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan