Sampang, 12/7 (Media Madura) – Harga garam saat ini melambung naik. Namun, bukannya memperoleh keuntungan, para petani garam justru mengaku kesulitan mendapatkan garam, sehingga tak bisa memproduksi garam pada musim garapan tahun ini.

Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Petani Garam Republik Indonesia (APGRI) di Sampang, H. Jakfar Shodiqin, dalam rapat kerja petani garam nasional di kantor aula Pemkab Sampang, Madura, Jawa Timur, Rabu (12/7/2017), pukul 11.00 WIB.

Ia mengatakan, harga garam rakyat saat ini sudah mencapai Rp 3.500 per kilogram atau Rp 3,5 juta per ton. Harga ini tak seperti biasanya yang hanya berkisaran Rp 700 per kilogram.

“Kalau harga dibilang cukup tinggi, cuman barangnya (garam-red) ini yang susah atau tidak ada,” kata Jakfar, Rabu (12/7/2017).

Jakfar menjelaskan, terjadinya lonjakan harga disebabkan hampir tidak adanya produksi garam khususnya Pulau Madura yang merupakan daerah terbesar hasil produksi garam. Apalagi, stok garam di wilayah Kabupaten Sampang sudah habis.

Kelangkaan produksi garam menyusul adanya musim anomali selama tahun 2016 hingga membuat proses pengolahan tambak garam yang dilakukan petani selalu gagal. Bahkan, untuk mencukupi kebutuhan produksi garam Indonesia terpaksa mengimpor garam sebanyak 75 ribu ton.

“Tapi sudah mulai ada sebagian petani garam masih melakukan panen tahun ini di beberapa spot-spot tambak garam dan itu pun hasil produksinya masih sekitar 50 kg sampai 1 ton,” jelasnya.

Jakfar menyampaikan, produksi garam di Sampang dengan luas areal 4.256 hektare selama 2 tahun terakhir mengalami penurunan. Di tahun 2015 mencapai 300 ribu ton, selanjutnya tahun 2016 hanya sekitar 5 persen yaitu mencapai 15 ribu ton. Untuk itu, target tahun 2017 ini produksi garam sebesar 240 ribu ton.

Selain itu, luas areal produksi garam di Pulau Madura di antaranya, Kabupaten Sampang seluas 4.256 hektare, Kabupaten Bangkalan 200 hektare, Pamekasan 888 hektare, dan Sumenep 1.500 hektare.

Sementara itu, Bupati Sampang Fadhilah Budiono saat dikonfirmasi, membenarkan anjloknya produksi garam di Kabupaten Sampang sepanjang 2016 lalu hingga tahun ini.

Dia berharap, dalam rapat kerja tersebut bisa mencetuskan solusi terbaik bagi petani garam. Termasuk pengajuan bantuan biomembran, stabilitas harga garam, produktifitas dan kualitas garam.

“Tidak menutup kemungkinan usulan kebutuhan bantuan petani garam dimasukkan di APBD 2018,” tutupnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan