Sampang, 4/4 (Media Madura) – Sengketa tanah antara warga dengan pihak Pemkab Sampang berkaitan dengan lahan RSUD Sampang, kembali terjadi. Setelah sebelumnya, penggugat atas nama Mostar Cs menggugat pihak Direktur RSUD, Bupati Sampang dan Dinas Kesehatan.

Kali ini, penggugat dari Salim Cs mengklaim tanah ahli waris miliknya dibangun dan ditempati RSUD Sampang. Sejumlah bukti kepemilikan dan saksi dihadirkan saat mendatangi kantor Pemkab Sampang.

Penasehat Hukum Salim, Joe Hasyim Waimahing mengatakan lahan RSUD Sampang yang diklaim itu merupakan tanah ahli waris yang diperoleh secara turun menurun. Namun, pihak Pemkab mengklaim bahwa tanah yang dibangun RSUD dibeli dari atas nama Asmuni dan jual beli itu terjadi pada tahun 1952.

“Yang sekarang diuji itu soal dokumen, karena sampai saat ini client kami (Salim Cs) tidak pernah menjual belikan lahan yang menjadi sengketa tersebut,” katanya.

Kata Joe Hasyim, dasar bukti kepemilikan ahli waris Salim Cs yakni di tahun 2007 pihak Kelurahan Karang Dalem mengeluarkan surat keterangan menyatakan tanah RSUD Sampang milik alm Marhatip/Marhalan bin Rosidi alias Sidi bin Salim Cs.

“Jadi kalau Pemkab mengklaim ada jual beli dari mana dasar itu, kalau mengacu pada tahun 1952 Persil 75S2 itu salah karena obyek tanahnya ada dibelakang RSUD, sementara yang kami miliki yaitu dokumen Persil 76 dengan luas tanah 0,2280 m2 dan sebagiannya dibangun rumah sakit,” ujarnya.

Sementara itu, Seketaris Daerah (Sekda) Sampang Puthut Budi Santoso menuturkan jika pemerintah akan melakukan pertemuan kedua dengan menghadirkan beberapa pihak terkait termasuk Salim Cs, Asmuni Cs. Sebab, selama ini baik pemerintah maupun pihak lainnya masing-masing sam mempunyai bukti kepemilikan atau dokumen lahan.

“Nah kalau data itu dipertahankan sendiri-sendiri sampai kapanpun tidak akan pernah selesai dan ketemu, makanya kita cari lembaga yang bisa menentukan mau memakai data yang mana kanan atau kiri,” ungkapnya.

Sekedar diketahui, sengketa lahan RSUD Sampang pernah digugat ke Pengadilan Negeri Sampang dengan nomor perkara 10 pdt.G/2015/PN.Spg. Namun, pihak penggugat Mostar Cs mencabut gugatan tertanggal 20 Januari 2016. Diduga materi gugatannya masih lemah atau bukti-buktinya masih kurang kuat.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan