Jika dihitung, rasanya lebih dari jutaan kali nama Madura disebut di beragam aktifitas dalam setiap harinya, entah itu dari bibir ke bibir terlebih dari kolom ke kolom komentar di media sosial.

Itu tidak lepas dari nama Madura yang kini sudah ada dimana-mana dan dibawa kemana-mana, dibuat nama apa saja, serta jadi topik perbincangan banyak hal. 

Alhasil, Madura saat ini sudah begitu populer, dikenal siapa dan dimana saja dihampir belahan bumi ini, terutama mereka yang gila bola dan demam dangdut, hehe. 

Tanpa si kulit bundar dan suara emas pedangdut, sebetulnya Madura memang sudah sangat pantas se populer saat ini hanya dengan segala keunikannya, budayanya, keseniannya, bahasanya, etos kerjanya, keberagamannya, solidaritasnya dan prestasi-prestasi hebat lainnya. 

Tetapi dengan adanya sepak bola dan para pangeran dangdut yang mem-fenomena akhir-akhir ini, nama Madura menjadi kian moncer dan kian beda dengan daerah lainnya di Indonesia.

Orang Madura kini bukan lagi bahan anekdot atau potret ketertinggalan. Sebaliknya, Madura kini adalah simbol kemajuan dan jadi contoh kemajemukan, yang kuat dalam solidaritas dan menonjol dalam totalitas. 

Jika melihat Madura kekinian, tidak jauh lebih besar dari bulatan bola, dimana dari sisi ke sisi sudah dapat saling melihat dan saling bersentuhan, bahkan permukaannya tak berujung dan tak berbatas.

Lebih dari itu, ibarat bulatan bola, saat nama Madura digulirkan, maka semua warganya akan mengikuti menggiringnya, saat satu bagian dilukai bagian lain juga akan ikut terluka.

Nah, ketika Madura sudah hanya sebulat bola, maka mestinya rajutan kebinnekaanya tak boleh lagi mudah dipecah-pecah, justru hanya semangat persaudaran yang harus selalu digelorakan.

Ketika Madura hanya sebulat bola. Maka jangan lagi bedakan antara Bekna, Been, Kakeh dan Hedeh, karena artinya tetap sama, yaitu Kamu.

Ketika Madura hanya sebulat bola, maka, jangan ada lagi kotak-kotak apalagi dikotak-kotakkan, bahwa Madura adalah merah putih, bukan hanya merah atau hanya putih saja apalagi menjadi hitam atau biru.

Seperti slogan, bahwa Madura adalah “Settong Ateh, Settong Tolang dan Settong Dhere,”

*Oleh: Badrur Rosi (waratawan mediamadura Sumenep)

Tinggalkan Balasan