Sumenep, 19/1 (Media Madura) – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam koalisi organisasi Mahasurya, Laksamuda dan Gempar menggelar aksi demonstrasi mengkritisi gagalnya kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemudan dan Olahraga (Disbudparpora) Sumenep, Madura Jawa Timur, Kamis (19/1/2017).

Kedatangan para pemuda ini bertujuan meminta pertanggungjawaban pengelolaan aset wisata, pembangunan wisata yang dinilai tidak jelas dan tidak pemperhatikan cagar budaya.

“Ini adalah periode kedua pak Sofi sebagai Kepala Dinas, bagi kami cita-cita visit Sumenep years 2018 hanyalah isapan jempol belaka,” kata Bisrie Gie dalam orasinya.

Menurutnya, Disbudparpora gagal memahami kebutuhan pembangunan yang bersentuhan langsung dengan pariwisata, baik berkenaan dengan konsep pembangunan, infrastruktur penunjang, ketersediaan SDM. 

“Aset wisata terancam dikelola asing, karena bobroknya pengelolaan wisata di tangan Kadisbudparpora,” tudingnya dengan nada kecaman.

Sedikitnya, terdapat sembilan poin penting catatan yang dibeberkan demonstran di hadapan Kepala Disbudparpora Sumenep Sofiyanto yang beberapa waktu lalu baru dilantik kembali untuk periode keduanya.

“Desain pembangunan wisata yang tidak jelas, program yang amburadul, lemahnya konsolidasi dengan berbagai elemen masyarakat, dan poin lain termasuk mandulnya memprakarsai lahirnya atlet berbakat,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Disbudparpora Sumenep Sofiyanto menyampaikan, koreksi para pendemo akan menjadi formulasi program di Disbudparpora Sumenep kedepannya.

“Kami masih akan melaksanakan pemberdayaan dan berupaya menyatukan seniman dan budayawan yang ada di Sumenep untuk bersama memikirkan wisata Sumenep,” ujarnya.

“Termasuk, kami juga tidak bisa terlalu jauh intervensi, dewan kesenian juga harus diberi kebebasan untuk berkreasi,” kilah Sofi saat diwawancarai.

Berbicara keamanan destinasi, pihaknya mengaku hanya menjadi fasilitator saja, karena menjadi tugas dan tanggungjawab Sahbandar.

Dinilai gagal, Sofi mengklaim tidak ada kejadian yang luar biasa yang mengindikasikan dirinya gagal memimpin Disbudparpora. “Semuanya butuh proses dan sudah ada ketentuannya,” pungkasnya.

Penulis: Panji Agira
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan