Pelaku IKM batik menunjukkan produk unggulannya yang dijual di toko Jalan Syamsul Arifin, Kota Sampang. (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindagprin) Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, menyiapkan anggaran sebesar Rp 40 juta per tahun program pembinaan dan pengembangan kelompok industri kecil menengah (IKM) batik. Dana itu minim sehingga tidak semua kelompok IKM bisa mendapatkan pembinaan.

“Karena anggarannya terbatas maka hanya ada dua kelompok yang mendapatkan program pembinaan, yaitu kelompok batik asal Kecamatan Camplong dan Banyuates, setiap pembinaan dianggarkan Rp 20 juta,” kata Kasi Pengembangan Industri Umum Disperindagprin Sampang Abdul Gaffar, Selasa (12/2/2019).

Gaffar menuturkan, jumlah kelompok IKM batik di Sampang berjumlah 40 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari enam pengusaha batik yang meliputi pengrajin dan penjual. Pembinaan diberikan kepada kelompok yang sebelumnya mengajukan permohonan. Ada 10 kelompok yang mengajukan permohonan. Namun, hanya dua pengajuan yang diterima.

Program pembinaan tersebut bertujuan untuk membantu kelompok IKM batik dalam meningkatkan kualitas dan mengembangkan pemasaran produk. Pembinaan dilakukan mulai dari tahap produksi, pematenan atau label produk, hingga akses penjualan dengan menggunakan sistem digital.

“Pembinaan masih fokus terhadap kelompok yang memproduksi batik dengan jumlah banyak dan tidak pernah mendapatkan bantuan,” jelasnya.

Menurutnya, penentuan kelompok yang akan mendapatkan program ini ditentukan setelah melakukan seleksi dan penilaian terhadap masing-masing kelompok. Sejumlah point yang menjadi kriteria penialian antara lain, alat produksi yang memadai dan komitmen kelompok dalam mengembangkan hasil produksi.

Program itu dilaksanakan selama dua kali. Pembinaan pertama terkait dengan pemilihan bahan produksi, tata cara penggambaran motif, dan pemilihan warna. Sebab, itu sangat menentukan terhadap kualitas produk batik yang akan dihasilkan kelompok tersebut.

Pihaknya bekerjsama dengan Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta. Pelaku IKM akan dibimbing dalam memproduksi batik bermotif nuansa alam dan kearifan lokal. Baik batik tulis maupun cap.

Sedangkan pembinaan yang kedua, berupa teknik pemasaran batik dengan sistem digilat. Setiap produk batik yang dihasilkan akan dipamerkan di Showroom batik dan dipasarkan di berbagai event yang dilaksanakan Pemkab dan Pemerintah Provinsi Jatim.

”Selama ini rata-rata batik di Sampang masih motif lama, misalnya, terang bulan, sokon, manok tetteng, burung merak, dan Trunojoyo, karena itu motifnya perlu dikembangkan agar bisa bersaing dengan produk daerah lain,” ucapnya.

Lanjut Gaffar, untuk lebih mendorong pangsa pasar batik, Disperindagprin Sampang bekerjsama dengan sejumlah pengusaha batik yang mempunyai galeri ternama di Jawa timur. Ada sekitar 38 produk yang sudah dititipkan di galeri tersebut.

Pihaknya juga sudah me-launching aplikasi SIP6 IKM SAMPANG sebagai media informasi dan promosi semua produk IKM di Sampang. Warga bisa mengunakan aplikasi itu untuk memasarkan produk  yang dihasilkan.

”Realiasai program akan dimulai pada Triwulan pertama, ke depan cakupan program kalau dana yang ada minim, kami akan mengajukan bantuan ke pemprov Jatim dan pusat, bagi kelompok yang ingin ikut pembinaan segera mengajukan permohonan kepada dinas,” pungkasnya.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Ist

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.