Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto dan Komisi III DPRD sidak kelokasi rusaknya tebing proyek normalisasi sungai Kali Kamoning untuk antisipasi banjir, Kamis (20/9/2018). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Proyek normalisasi dan penguatan tebing sungai Kali Kamoning di Jalan Panglima Sudirman Kota Sampang, Madura, Jawa Timur, rusak. Pengerjaan itu dianggarkan dengan nilai Rp 155 miliar bersumber APBN.

Kerusakan proyek sebagai pengendali bencana banjir ini dikarenakan sheet pile atau CCSP mengalami kemiringan. Maklum saja, kerusakan dianggap akibat faktor alam. Sebab, saat pemasangan sheet pile kedalaman 10 meter ada rendapan sumber air.

Padahal, sebelum pengerjaan proyek dimulai sudah dilakukan uji sondir untuk mengetahui kadar air, kandungan, dan kepadatan tanah.

Lantas apakah kesalahan konsultan pelaksana atau kelalaian konsultan perencanaan. Sehingga proses perbaikan proyek ratusan miliaran itu perlu memakan waktu sekitar 1 bulan.

Kejadian itu sontak direspon sejumlah pihak, baik Pj Bupati Sampang Jonathan Judianto, dan rombongan Komisi III DPRD Sampang langsung melakukan sidak ke lokasi.

Termasuk, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) bergegas melakukan rapat koordinasi dengan Pemkab Sampang di kantor Bapelitbangda, dihadiri konsultan pelaksana.

Jonathan mengatakan, pihaknya perlu melakukan uji kembali guna memastikan penyebab miringnya sheet pile yang kemungkinan adanya sumber air di dalam tanah. Maka hasil sidak itu, dirinya menilai kejadian tersebut diakibatkan tidak terdeteksinya sejak awal.

“Kita masih perlu identifikasi lagi karena ada sumber air dibawah ini yang tidak terdeteksi sejak awal, apakah akibat sumber air itu atau pemukiman, nanti akan dites, kalau dari sumber air akan dibuatkan slot pembuangan air,” ujar Jonathan saat sidak, Kamis (20/9/2018).

Sementara hal sama disampaikan, Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air (PJSA) BBWS Brantas Sri Purwaningsih, saat di Sampang. Dia menyampaikan, kerusakan proyek normalisasi sungai terjadi akibat faktor alam adanya sumber air yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Sumber air bisa mengakibatkan sheet pile rusak karena ada tekanan. Saat dilakukan uji sondir, kandungan kepadatan tanah sudah bisa dikatakan aman.

“Sebelumnya memang tidak ada sumber yang terdeteksi, masih aman, ternyata tadi setelah ke lokasi ada sumber, kita perlu evaluasi lagi apakah titik sumbernya satu atau lebih,” jelasnya.

Sri menerangkan, panjang sheet pile digunakan sebagai tebing mencapai 16 meter. Tekhnis pemasangan harus tertanam ke bawah tanah sekitar 2/3 atau 10 meter, sedangkan sisanya diatas tanah 1/3 atau 6 meter.

“Artinya secara pelaksanaan dan perencanaan tidak ada kesalahan, kami sudah mengkaji bahwa itu aman seperti geologi tanah dan kandungan jenis tanah,” tuturnya.

Untuk itu, pihaknya akan membongkar kerusakan sheet pile dengan cara mengganti sheet pile yang baru.

“Kalau sheet pile bisa dicabut akan diganti yang baru, tapi menggunakan kekuatan spoint pile atau panjang yang miring,” terangnya.

Informasi diterima mediamadura.com, nilai pagu proyek Rp 155 miliar itu dikerjakaan oleh PT Rudi Jaya-PT Jati Wangi, KSO dengan nilai kontrak Rp 149 miliar secara Multi Years Contrak (MYC) selama tiga tahun, mulai 2017 hingga 2019.

Nilai di tahun 2017 Rp 4,9 miliar, tahun 2018 Rp 30 miliar, dan tahun 2019 Rp 114 miliar.

Pengerjaan normalisasi dengan panjang 4,2 kilometer itu meliputi pekerjaan mobilisasi, tanah, pemancangan, dan beton cupping. Saat ini, pengerjaan terlaksana 1,2 kilometer dan proges fisik mencapai 30 persen.

Terpisah, Anggota Komisi III DPRD Sampang Anwar Sanusi, menilai hasil sidak dapat disimpulkan bahwa kerusakan proyek normalisasi tersebut atas kesalahan dari konsultan perencanaan, karena tidak bisa menyesuaikan kondisi tanah dilokasi hasil uji sondir.

Kendati demikian, dirinya tetap meminta kepada pihak rekanan agar pekerjaan proyek normalisasi tidak main-main dan profesional. Mengingat, pengerjaan itu menjadi dambaan masyarakat perkotaan untuk pengendalian bencana banjir yang setiap tahun melanda Kabupaten Sampang.

“Saat sidak memang kerusakan tebing sungai itu miring bukan patah, kalau patah wajib dipertanyakan soal kualitas sheet pile, jadi lebih kepada konsultan perencana dalam merencanakan itu,” kata Anwar.

Politisi PDIP ini menegaskan, legislatif di Sampang akan terus melakukan pengawasan terhadap setiap pelasanaan proyek yang bersumber dari APBN maupun APBD.

Menanggapi itu, Komisaris PT Jati Wangi H. Nuri mengaku siap bertanggungjawab sepenuhnya karena masih masa pekerjaan.

“Kami akan perbaiki, selama sheet pile bisa dicabut akan diganti yang baru, sekarang ini masih kajian tim tekhnik, kenapa kok bisa karena ada rembesan air,” singkat H. Nuri usai rapat di kantor Bapelitbangda.

Diketahui, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui BBWS Brantas menganggarkan sekitar Rp 360 miliar untuk proyek normalisasi dan penguatan tebing sungai Kali Kamoning sepanjang 9 kilometer.

Dana bersumber dari APBN itu secara Multi Years Contrak (MYC) selama tiga tahun, mulai 2017 hingga 2019. Rinciannya, tahun 2017 senilai Rp 8,3 miliar, tahun 2018 Rp 73 miliar, dan tahun 2019 sebesar Rp 284 miliar.

Pekerjaan normalisasi banjir ini dibagi menjadi dua paket. Paket I dikerjakan kontraktor pelaksana PT Adi Karya Persero, Tbk dengan total nilai pagu selama tiga tahun sebesar Rp 205 miliar. Sedangkan, paket II dikerjakan PT Rudi Jaya-PT Jati Wangi, KSO dengan total pagu Rp 155 miliar.

Reporter : Ryan Hariyanto
Edito : Arif

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.