Pamekasan, (Media Madura) – Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 ditemukan peningkatan Data Pemilih Sementara (DPS) yang signifikan di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Hal itu diungkapkan oleh ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan, Ismail. Peningkatan Data itu diduga fiktif, atau DPS “siluman”.

Menurutnya, peningkatan jumlah DPS itu bisa dicurigai kelakuan orang yang tidak bertanggung jawab, bisa-bisa hanya ingin menggelembungkan suara di salah satu kecamatan.

“Perbandingaannya Pilkada 2013 lalu. Pilkada tahun 2013 lalu sedikit, sekarang malah meningkat lebih dari sepuluh persen,” ungkap Ismail, Rabu (11/4/2018).

Dijelaskan, kasus itu terjadi di Kecamatan Batumarmar, mengalami peningkatan DPS sebanyak 15 persen. Di daerah tersebut, pada pilkada 2013 lalu terdapat DPT 76.353, sedangkan pilkada tahun ini membeludak menjadi 10.220 jiwa.

“Hal ini perlu dikroscek ke bawah, apakah orangnya ada atau tidak, apalagi di daerah itu banyak yang jadi TKI,” pinta Ismail.

Daerah lain yang juga mengalami peningkatan drastis, di Kecamatan Palengaan sebanyak 13 persen, Proopo 11 persen, Waru 10 dan Kecamatan Pegantenan sebanyak 10 persen.

“Ini saya yakin ada permainan, bahkan saya dengar beberapa hari yang lalu masih ada yang menyetorkan nama warga tapi tidak ber-NIK ke KPU, tapi ditolak,” tuturnya.

Sementara ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pamekasan Moh Hamzah mengakui jika di daerah utara terjadi peningkatan DPS. Data tersebut berdasarkan daftar isian masalah data kependudukan dan pencoklitan, namun sebagian warga disana menjadi buruh di luar Madura, atau bahkan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

“Paling banyak warga yang tidak ber e-KTP di daerah pantura, yaitu Kecamatan Batumarmar, Pasean dan Kecamatan Waru. Sementara daerah tengah itu adalah Kecamatan Proppo,” pungkasnya.

Reporter: Rifqi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.