Bangkalan, (Media Madura) – Dari sekian banyak cafe di Bangkalan. ‘warung tumbuh’ di daerah Kepang paling beda.

Cafe ini bisa disebut tempat nongkrong yang ramah alam. Karena ruang out doornya penuh pohon dan tetanaman. Ada terembesi hingga bunga Kamboja.

Bisa juga disebut cafe kebudayaan. karena bangunan indornya banyak memanfaatkan ukiran kuno khas rumah tradisional Madura yang mulai punah.

Dindingnya dipenuhi tulisan tentang falsafah hidup orang Madura. Serta ajakan jangan lupa berbahasa Madura.

Ia Juga bisa disebut cafe edukasi daur ulang. Sebab kursi dan meja dibuat dari barang bekas dan kerap berakhir di tempat sampah.

Mulai dari kayu, botol hingga mesin diesel rusak pun dijadikan meja yang keren.

Yang paling penting, warung tumbuh tak menyediakan WiFi gratisan. Salah satu faedah meniadakan WiFi adalah mengembalikan nongkrong pada hakekatnya yaitu ngobrol santai atau berdiskusi serius.

Di cafe konvensional, nongkrong telah kehilangan hakekatnya karena WiFi. Meski duduk satu meja, para tongkrongers kini lebih sibuk menatap layar android masing-masing.

Bahkan lebih parah lagi, meski duduk satu meja. Lebih milih ngobrol di grup WhatsApp masing-masing.

Warung tumbuh juga punya identitas sendiri. Bila masuk ke cafe identik dengan memesan kopi. Maka warung tumbuh tidak identik dengan kopi. Minuman favorit di warung tumbuh adalah temu lawak.

Minuman yang tercipta dari olahan berbagai jenis bahan jamu ini, punya manfaat yang luar biasa bagi kesehatan.

Penulis : Mukmin Faisal
Editor : Ist

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.