Manajer Madura United, Haruna Soemitro dan Asisten Pelatih, Danilo Fernando

Media Madura – Manajer Madura United, Haruna Soemitro mendesak direksi PT Liga Indonesia Baru (LIB) mundur dari jabatannya. Desakan itu terkait belum jelasnya kick off Liga 1 2018 hingga kini.

Haruna mengaku klub tidak pernah diajak bicara soal kick off Liga 1 oleh pengelola liga. Padahal klub adalah pemegang saham. Mestinya, terlebih dahulu PT LIB menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) dan kongres.

“Klub ini tidak pernah diajak bicara, eh kita punya proyeksi mau start kompetisi tanggal sekian, kemudian kita katakan bahwa oh kita tahu start tanggal 1 pokoknya. Kira-kira Liga ini jadi atau tidak kita juga nggak tahu. Karena kita ini memang belum pernah tahu,” ucapnya.

Maka, atas kondisi tersebut, Haruna menilai, direksi PT LIB seenaknya saja membuat pernyataan tentang kick off Liga 1.

Seperti diketahui, kick off Liga 1 2018 mengalami tiga kali perubahan. Pertama akan digelar 24 Februari, kedua diundur menjadi 3 Maret, dan jadwal terbaru bergulir 10 Maret mendatang.

Namun, sekali lagi menurut Haruna, pernyataan yang dibuat PT LIB baru-baru ini tidak melalui mekanisme yang ada. Akibatnya, klub-klub Liga 1 kebingungan.

“Contoh nih, kick off Liga diputuskan oleh siapa?. Dari situlah ujungnya kick off liga ini tidak mengikat secara yuridis kepada direksi, maka dia (PT LIB.red) seenaknya saja, dia tidak merilis itu di dalam kongres, dia tidak segera memanggil rapat umum pemegang saham, bukan saja keputusan RUPS. Kalau itu menjadi keputusan RUPS, itu mengikat direksi, sekarang ini tidak ada, jadi mereka seenaknya saja, mau dimulai bulan Agustus, bulan Maret, nggak ada ikatan, berkali-kali orang tanyakan, bagaimana tanggapan Liga diundur? siapa bilang diundur, wong mulai aja nggak tahu, siapa bilang diundur?, kan gitu kan,” kesal Haruna.

“Yang mengikat direksi untuk memulai itu apa keputusannya, kongres tidak ada, kongres tidak merilis tentang kapan kompetisi dimulai, kemudian RUPS tidak mulai, sehingga mereka seenaknya saja. Dia bilang eh besok tanggal 10 (dimulai), suka-suka dia bilang, klubnya nggak tahu, sehingga sekarang ini klub juga bingung untuk memulai,” tegasnya.

Haruna juga menjelaskan, dampak ketidakpastian kick off Liga 1 terhadap klub peserta, termasuk bagi timnya sendiri, Madura United.

“Kalau bagi Madura ya kiamat. Karena apa?, Madura minggu depan sudah mulai menggaji pemain, kontrak sudah on bulan Februari dan kita sudah on argunya untuk gaji pemain. Kalau sudah seperti itu, berarti Madura sudah terikat secara hukum dengan pemain. Sekarang pertanyaannya, klub dengan Liga punya hukum atau tidak? Nggak ada, karena nggak ada keputusan yang mengikat tentang itu, kan gitu,” ulasnya.

“Jadi, yang saya katakan, pengelola Liga ini sudah lah menyerahkan diri, lempar handuk, mengaku tidak mampu, daripada mengatakan saya mampu, saya bisa. Saya (PT LIB.red) salah, TV partner tidak bayar. Kan yang selalu disalahkan TV partner atau partner tidak bayar, itu bukan salahnya TV partner ataupun partner, berarti direksi tidak mempunyai kecakapan untuk mengelola liga yang besar ini,” pungkasnya.

Reporter: Zainol
Editor: Ahmadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.