Bangkalan, (Media Madura) – Pembunuhan sopir taksi online bikin warga Madura susah. Banyak sopir menolak bila ada order tujuan Madura.

Yang menolak bukan hanya sopir taksi online, tapi juga taksi konvensional.

Kepala Satlantas Polres Bangkalan, AKP Inggir Prasetyanto sering mengalami penolakan bahkan jauh sebelum pembunuhan terjadi.

Status perwira polisi yang disandang, tak bisa dijaminkan agar sopir taksi mau mengantarnya ke Kabupaten Bangkalan.

“Mereka pasti turunin saya di Kenjeran. Mereka takut ke Madura. Jadi untuk ke Bangkalan saya minta jemput anggota (polisi),” kata dia, Rabu, 6 Desember 2017.

Inggit menilai ketakutan para sopir itu termasuk akut. Misalnya, mereka lebih siap dilaporkan ke perusahaan timbang mengantar penumpang ke Madura.

“Karena perilaku jahat seseorang, tapi berdampak pada semua warga Madura,” ujar dia.

Hal serupa juga dialami Esa Arif, warga Kabupaten Pamekasan yang tiap akhir pekan ke Surabaya untuk kuliah S2.

Bila sedang malas bawa mobil, Esa pilih pakai jasa transportasi online karena pemesanan lebih mudah. “Kalau tahu tujuan ke Madura, pasti diturunin di Kenjeran, nyambung bus ke Pamekasan,” ungkap dia.

Dian Kurniawan, warga Surabaya, yang menggeluti transportasi online membenarkan pembunuhan Ali Gufron, sopir online asal Kenjeran membuatnya lebih selektif memilih penumpang ke Madura.

“Apalagi kabarnya korban dan pelaku sudah saling kenal. Kenal aja dibunuh, apalagi gak kenal,” kata dia.

Untuk menghindari musibah, Dian mengatakan tidak menerima order 24 jam. Dia hanya mengambil order paling akhir jam 9 malam. “jam 9 sudah harus di rumah,” ujar dia.

Penulis : Mukmin Faisal
Editor : Arif

Tinggalkan Balasan