Pemkab Sumenep Masih Andalkan Program RTLH Entaskan Kemiskinan

Salah satu rumah tidak layak huni di Sumenep

Sumenep, (Media Madura) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur masih mengandalkan program bantuan Rumah Tak Layak Huni (RTLH) dalam mengentaskan kemiskinan. 

Pada tahun 2018, Dinas Sosial (Dinsos) telah menganggarkan bantuan RTLH dan bedah rumah bagi warga miskin, sebesar Rp 6,9 miliar lebih. 

Anggaran tersebut rencananya diperuntukan bagi 644 penerima dengan rincian masing-masing penerima penerima akan mendapatkan dana sebesar Rp 15 juta.

“Bantuan ini hanya bersifat stimulan saja. Kalau ada pigak lain yang mau nyumbang tidak masalah, yang penting bantuan ini jangan dikurangi,” kata Kepala Dinsos Sumenep, Akh Aminullah.

Menurutnya, anggaran dan jumlah penerima tersebut bertambah dibandingkan tahun sebelumnya. Anggaran 2016 hanya Rp 700 juta untuk 70 penerima, masing-masing mendapatkan bantuan Rp 10 juta. Lalu di 2017 dianggarkan 750 juta untuk 50 penerima masing-masing Rp 15 juta.

“Upaya tersebut merupakan langkah kongkrit pemerintah dalam mengentaskan angka kemiskinan. Karena sejak beberapa tahun terakhir pengentasan kemiskinan  bersifat stagnan,” terangnya. 

Aminullah menjelaskan, program bedah rumah hanya diberikan kepada warga miskin yang sudah lanjut usia (lansia), sedangkan program RTLH diberikan kepada warga miskin meskipun usianya masih muda.

Seperti diberitakan, dalam tiga tahun terakhir ini, kemiskinan hanya turun sebesar 1,87 persen dari 21,96 persen menjadi 20,09 persen pada Maret 2016.

Disamping itu, pertumbuhan ekonomi juga sangat rendan hanya bergerak di kisaran 1,5 persen per tahun. Misalnya, tahun 2015 pergerakan ekonomi hanya tumbuh sebesar 1,27 persen dan di tahun 2016 merangkak menjadi 2,58 persen.

Kemudian, Sumenep merupakan kabupaten termiskin peringkat 4 se Jawa Timur setelah Kabupaten Sampang, Bangkalan, dan Kabupaten Probolinggo.

Oleh sebab itu, kata Aminullah, orang miskin harus dibantu. Sebab jika tidak, persoalan ekonomi akan berdampak pada kesehatan dan dunia pendidikan.

“Boleh miskin orang tuanya, tapi anaknya tidak boleh miskin. Jika rumahnya bolong itu tidak sehat, dan jika miskin bagaimana anaknya bisa belajar, makanya harus diperjuangkan,” tukasnya.

Reporter: Rosy
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.