Madura dalam Sepak Bola

Oleh : Esa Arif As*)

Dalam kurun waktu 7 tahun ini, sepak bola Madura menulis sejarahnya sendiri di percaturan sepak bola nasional, bahkan saat ini klub Madura menjadi salah satu yang diperhitungkan, ditakuti oleh klub besar yang telah malang-melintang di jagad olahraga paling populer sejagad ini.

Sepuluh tahun lalu, siapa yang membayangkan bahwa Madura akan mempunyai klub-klub sepak bola profesional yang diperhitungkan. Siapa yang membayangkan pemain-pemain dengan nama besar baik tingkat nasional maupun internasional mau bermain untuk klub Madura, bertarung, berjuang, berlari tanpa lelah di lapangan untuk membanggakan masyarakat Madura.Tetapi kini masyarakat Madura khususnya pencinta sepak bola bisa membusungkan dada lantaran klubnya mampu sejajar dengan klub-klub beken tanah air semacam Persija, Persib, Sriwijaya, Arema, PSM Makassar dan lainnya.

-Advertisement-

Barangkali perlu melihat sejenak ke belakang, bagaimana penderitaan sepak bola Madura mulai merangkak hingga sehebat saat ini. Meminjam kalimat Soekarno bapak proklamator dan pendiri bangsa Indonesia, bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.

Ketenaran sepak bola kita ini dimulai pada tahun 2011 lalu, di mana Persatuan Sepak Bola Pamekasan (Persepam) untuk pertama kalinya berhasil lolos ke Devisi Utama, yakni kasta kedua kompetisi tertinggi tanah air. Ketua PSSI saat itu KH Kholilurrahman mengajak Achsanul Qosasih yang merupakan pencinta sepak bola untuk mengelola Persepam menjadi klub sepak bola profesional tanpa menggunakan uang negara, sebab saat itu KONI telah mengeluarkan aturan bahwa sepak bola profesional tidak boleh menggunakan APBD. Kedua tokoh tersebut akhirnya bersepakat untuk mendirikan perusahaan dan mengelola Persepam secara profesional di bawah naungan PT. Pojur Madura United dan Persepam berubah nama menjadi Persepam Madura United.

Pada tahun 2013, Klub dengan nama baru ini untuk pertama kalinya memberikan kejutan kepada publik sepak bola nasional, lantaran baru pertama kali lolos ke devisi utama dan tahun berikutnya langsung promosi ke kasta tertinggi sepak bola nasional yakni Indonesia Super Laegue (ISL).

Sayangnya, satu tahun setelah itu yakni tahun 2014, klub yang berjuluk Laskar Sapeh Kerap ini kembali terdegradasi ke devisi utama. Awan hitam mewarnai jagad sepak bola Madura saat itu, lantaran publik Madura begitu bersemangat dan terlalu menggantungkan harapan agar Persepam MU menjadi juara, tetapi kenyataannya justru terdegradasi. Sementara publik Madura belum memahami bahwa kalah dan menang dalam sepak bola adalah hal yang biasa, justru dari situlah drama tercipta.

Penulis keindahan sepak bola yang juga novelis legendaris asal Uruguay, Eduardo Galeano menguraikan, keindahan sepak bola juga terletak pada kemampuannya untuk mengelak dikira, menolak disangka. Ia menyajikan apa yang tidak kita bayangkan. Publik sepak bola Madura saat itu belum paham substansi keindahan sepak bola, yang diinginkan hanyalah menang, menang dan menang, sementara keindahan sepak bola juga berada di sudut yang berbeda.

Buntut dari ketidak dewasaan dan ketidak pahaman dalam mencintai sepak bola itu, pada hari Selasa tanggal 09 Desember tahun 2014, PT Pojur Madura United secara resmi mundur dari pengelolaan Persepam dan menyerahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Askab PSSI Pamekasan. Penyerahan tersebut dilakukan langsung oleh manager PT Pojur Madura United, Achsanul Qasasi kepada ketua Askab PSSI Pamekasan Achmad Syafii, dan pada saat itu juga ditunjuklah manager baru yakni salah satu tokoh Madura MH Said Abdullah di Pendopo Ronggosukowati, Pamekasan. Meskipun demikian, ketiga tokoh tersebut tetap dalam suasana keakraban, berjanji untuk tetap bersama-sama memajukan sepak bola Madura.

Pada perjalanan selanjutnya, manajemen baru ini membuat perusahaan baru dengan nama PT. Jempol Madura Utama dan nama Persepam Madura United (P-MU) berubah menjadi Persepam Madura Utama (P-MU). Saat ini klub yang juga milik Pemkab Pamekasan ini telah mempersiapkan tim dengan matang termasuk mempromosikan pemain lokal Pamekasan guna berlaga pada kompetisi liga 2 tahun 2017 dengan target promosi ke liga 1 tahun 2018 mendatang.

Selanjutnya, pada awal tahun 2016, publik sepak bola Madura dikejutkan dengan kado istimewa lantaran kedatangan klub baru yang bernama Madura United FC, klub ini awalnya merupakan klub Pelita Bandung Raya (PBR) yang merupakan semifinalis kompetisi ISL tahun 2014 dan diakuisisi oleh Achsanul Qosasih pada 10 Januari 2016 dan diganti namanya menjadi Madura United FC. Klub ini akan berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia tahun 2017 ini dengan deretan pemain kelas wahid dengan target juara, sejumlah kejutan telah ditunjukkan klub ini dalam setahun terakhir sehingga menjadi magnet baru, tidak hanya di jagad sepak bola Madura bahkan di Indonesia.

Pada kompetisi elit liga Indonesia tahun ini, Madura tidak hanya diwakili oleh Madura United FC di liga 1 dan Persepam MU di liga 2, tetapi masih ada Perssu Sumenep di liga 2 serta Madura FC di liga 2. Akan ada 4 klub profesional yang mengusung nama Madura dalam liga resmi dibawah naungan PSSI tahun ini.

Madura FC merupakan pendatang baru di Madura yang sebelumnya bernama Persebo dan berganti nama setelah dibeli oleh PT. Sepakbola Madura Bangkit. Klub ini akan menggunakan Stadion Ahmad Yani Sumenep sebagai kandangnya.

Tokoh-tokoh seperti KH Kholilurrahman, Achsanul Qosasih, Achmad Syafii dan MH Said Abdullah, telah meletakkan pondasi dasar sepak bola modern bagi masyarakat Madura, apresiasi dan rasa hormat layak diberikan kepada mereka dan tidak pantas kata-kata sumbang diarahkan kepada salah satunya, sebab mereka telah berbuat sementara kita tidak melakukannya. Mengurusi klub sepak bola profesional tidaklah mudah, tidak hanya mengandalkan kemampuan keuangan yang besar tetapi pengorbanan secara psikologis dan psikis harus dilakukan, dan tentu tujuannya sangat mulya, yakni memulyakan dan memperkenalkan Madura melalui sepak bola.

Tetapi saat ini, di tingkat bawah justru elemen sepak bola mulai diwarnai suasana ketidakharmonisan dengan berbagai kepentingan yang menjadi bagian tidak terpisahkan di panggung si kulit bundar ini, mulai tingkatan pengurus klub, sporter dan elemen lainnya. Kondisi tersebut merupakan hal biasa dalam alur cerita sepak bola, tetapi seharusnya konflik itu terkelola dan energinya diarahkan pada kemajuan sepak bola bukan justru mengarah pada perpecahan.

Keempat klub yang membawa nama Madura tersebut mempunyai tujuan yang sama, untuk memajukan sepak bola Madura, berjuang untuk Madura dan publik Madura, seharusnya kita menjadi bagian tak terpisahkan dalam gerbong perjuangan itu. Jika keempatnya berjuang untuk mengukir sejarah Madura dalam lembaran sepak bola meskipun di kasta kompetisi berbeda, maka rakyat Madura seharusnya berdiri di belakang klub ini untuk memberikan dukungan dan doa, bukan malah tercerai-berai. Untuk apa berkemajuan dalam sepak bola jika kita mendidik generasi selanjutnya dengan perpecahan dan bahkan kehilangan kesantunan, kehilangan cara ber-Madura. Bolehlah kita mengadopsi pengelolaan klub dari Eropa, bolehlah kita meniru startegi bisnis pengelolaan sepak bola dari sana, bolehlah kita berkiblat dalam strategi permainan dari sana, tetapi jangan sampai kita meniru hal-hal yang negatif termasuk perpecahan sporternya. Kelompok sporter boleh bermacam-macam nama tetapi dalam gerbong semangat ber-Madura. Ini Madura Bung, bukan Eropa. Apalagi Madura adalah santri kata Achsanul Qosasih.

Peneliti senior LIPI Prof. Mien A. Rifai, B.Sc., M.Sc., Ph.D dalam bukunya Manusia Madura, menguraikan, manusia Madura telah membuktikan kepada sejarah bahwa ia merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang tahan bantingan zaman. Jika begitu, maka kita sebenarnya satu darah, kita bersaudara, kita tidak terpisah, kita adalah Madura.

*) Penulis adalah Sekjen PWI Pamekasan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.