Hari Batik Nasional, Hj. Ansari Tekankan Pentingnya Keberpihakan kepada Pedagang

Must read

- Advertisement -
Redaksi
Redaksihttps://mediamadura.com
Media online yang menyajikan informasi seputar Madura. Bernaung dibawah PT Media Madura Group.

Pamekasan, (Media Madura) – Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi momentum untuk tidak hanya mengenakan batik, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi para perajin dan pedagang batik, khususya Batik Madura.

Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Daerah Pemilihan Jawa Timur XI Madura Raya, Hj. Ansari, mendorong agar peringatan Hari Batik Nasional memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha batik di Madura.

Menurutnya, Batik Madura memiliki kekayaan motif dan karakter yang kuat. Karena itu, keberadaannya harus terus dijaga sekaligus didorong agar semakin dikenal dan memiliki pasar yang lebih luas.

“Jangan sampai kita hanya bangga memakai batik pada Hari Batik Nasional, tetapi para perajin dan pedagangnya justru kesulitan menjual produknya. Yang harus kita dorong adalah bagaimana batik Madura semakin laku, produksi meningkat, dan penghasilan para pedagang serta perajin ikut naik,” ujar Hj. Ansari.

Legislator perempuan asal Pamekasan itu menilai pedagang memiliki posisi penting dalam keberlangsungan industri batik. Sebab, hasil produksi perajin pada akhirnya membutuhkan pasar agar usaha tersebut terus berjalan.

Karena itu, Hj. Ansari mendorong adanya dukungan yang lebih konkret terhadap pedagang batik Madura, mulai dari perluasan pasar, promosi, pameran, digitalisasi pemasaran hingga kemudahan akses pembiayaan bagi pelaku usaha.

“Pedagang jangan hanya dijadikan pelengkap dalam setiap kegiatan batik. Mereka adalah bagian penting dari rantai ekonomi batik. Kalau pedagang ramai pembeli, perajin juga ikut bergerak. Dari situ ekonomi masyarakat tumbuh,” tegasnya.

Batik Madura memiliki karakter dan motif khas yang berkembang di empat kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Di Bangkalan, salah satu yang dikenal adalah Batik Gentongan atau Batik Tanjung Bumi. Sementara Sampang memiliki Batik Kotah. Adapun Pamekasan dan Sumenep dikenal sebagai daerah penghasil batik tulis dengan beragam motif khas Madura.

Menurutnya, setiap kabupaten juga memiliki sentra produksi dan pemasaran yang berbeda.

“Keberadaan sentra-sentra tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan industri batik sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi para perajin dan pedagang batik Madura,” terangnya.

Hj. Ansari juga meminta pemerintah dan berbagai pihak tidak berhenti pada kegiatan seremonial Hari Batik Nasional. Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi pintu masuk untuk memperkuat ekosistem usaha batik dari hulu hingga hilir.

“Harus ada keberlanjutan. Jangan hanya ramai ketika Hari Batik Nasional, setelah itu pedagang kembali sepi. Kita ingin batik Madura punya pasar yang terus hidup sepanjang tahun,” kata istri Ketua DPC PDI Perjuangan Pamekasan itu.

Pihaknya berharap masyarakat Madura juga semakin bangga menggunakan dan membeli produk batik lokal. Dengan begitu, uang yang berputar dari perdagangan batik dapat kembali dirasakan oleh masyarakat, terutama perajin dan pedagang kecil.

“Kalau kami membeli Batik Madura, kita bukan hanya membeli kita. Kita ikut menghidupkan perajin, pedagang dan ekonomi keluarga masyarakat Madura,” pungkas Hj. Ansari. (*/Znl)

- Advertisement -

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article