Makkah, (Media Madura) – Salah seorang jamaah asal Kabupaten Pamekasan, Taufadi, membagikan catatan perjalanannya selama menjalani ibadah haji di Makkah. Dalam kisahnya, ia menceritakan suasana menjelang puncak ibadah haji atau Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), yang penuh harap sekaligus rasa cemas.
Setelah menyelesaikan umrah wajib, Taufadi bersama jamaah lainnya memanfaatkan waktu dengan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. Namun tidak sedikit jamaah memilih beribadah di masjid sekitar hotel demi menjaga kondisi fisik menjelang Armuzna.
“Banyak jamaah sengaja mengurangi aktivitas di luar hotel karena cuaca sangat panas dan tenaga harus benar-benar disiapkan untuk puncak haji,” tulisnya.
Mobilisasi jamaah menuju Arafah dijadwalkan berlangsung Senin, 25 Mei 2026, bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Kloter SUB-74 yang diikutinya menjadi salah satu rombongan terakhir yang diberangkatkan dari sektor 4.
Menurut Taufadi, penjelasan dari petugas pembimbing haji tentang kondisi Armuzna membuat dirinya cukup khawatir. Ia membayangkan padatnya pergerakan jamaah, kemungkinan harus berjalan kaki jauh, hingga situasi di Muzdalifah dan Mina yang sering kali tidak mudah diprediksi.
“Penjelasan itu terasa merinding, membuat bulu kuduk saya berdiri,” ungkap pria yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan itu.
Rasa cemas itu semakin terasa setelah sang istri, Hj. Ansari, yang pernah menjadi pengawas haji saat bertugas di Komisi VIII DPR RI pada 2025, membenarkan bahwa situasi yang dijelaskan memang nyata terjadi di lapangan.
“Tiba-tiba istri saya berbisik, ‘Makanya perbanyak istighfar dan doa, jangan tenang-tenang saja’,” tulisnya.
Taufadi mengaku pengalaman haji reguler tahun ini sangat berbeda dibanding saat dirinya berhaji menggunakan visa Furoda pada 2019 lalu. Saat itu, menurutnya, hampir seluruh fasilitas terasa lebih nyaman dan terkoordinasi, mulai dari hotel yang dekat dengan Masjidil Haram, tenda Mina yang nyaman, hingga akses bus khusus menuju lokasi ibadah.
Karena itu, ia dan keluarga mulai menyusun strategi agar pelaksanaan ibadah berjalan lancar, terutama saat lempar jumrah. Ia berencana membadalkan lempar jumrah Aqabah untuk istrinya pada hari pertama, sementara ibunya tetap melaksanakan sendiri karena kondisi fisiknya masih kuat.
Selain menjaga kondisi fisik, jamaah juga terus diingatkan agar fokus pada niat ibadah dan memperbanyak doa. Berbagai kegiatan seperti istighasah, tahlil, khatmil Qur’an, hingga yasinan bersama rutin dilakukan jamaah kloter SUB-74 di hotel.
Menurut Taufadi, pembekalan dari para petugas haji menjadi pengingat penting bahwa Armuzna adalah fase paling berat sekaligus paling sakral dalam ibadah haji.
“Pelaksanaan Armuzna adalah puncak ibadah haji yang serba mungkin dan tidak mungkin. Apa yang diperkirakan mudah bisa menjadi sulit, dan apa yang diperkirakan sulit justru bisa menjadi mudah,” tulisnya.
Di akhir pembekalan, Taufadi mendapat pesan mendalam dari Alwi Beiq yakni diingatkan untuk memperbanyak doa saat di Arafah, terutama memohon ampunan dan keselamatan bagi keluarga.
“Ya Allah, entaskanlah hamba, orang tua hamba, istri atau suami hamba, mertua hamba, serta anak-cucu hamba dari api neraka,” menjadi doa yang paling ditekankan menjelang Armuzna. (Znl/Arif)
Tulisan kiriman H. Taufadi langsung dari Tanah Suci Makkah.


