Nawardi, Anggota DPD RI Ngopinya di Warung Kecil Ini

Anggota DPD RI, Ahmad Nawardi saat berdiskusi di Warung Pak Saleh
Advertisement

Pamekasan, (Media Madura) – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Ahmad Nawardi melakukan sejumlah agenda di Kabupaten Pamekasan, Madura. Usai salat tarawih ia menyempatkan diri berkunjung ke warung Pak Saleh yang terletak di jalan Brawijaya, Kelurahan Jungcangcang. Kamis (06/05/2021) malam.

Di warung kopi di warung berukuran 2×8 meter yang telah berdiri sejak tahun 1987 dan hingga saat ini tetap eksis ini, Nawardi bertemu dan berdiskusi dengan sejumlah aktivis dan jurnalis yang biasa menikmati kopi khas campuran kopi dan jahe.

Dalam kesempatan itu mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu mengaku senang bisa bertemu dan berdiskusi dengan para pengunjung warung tersebut.

“Serap aspirasi itu kan tidak hanya di tempat yang mewah dan ber-AC, di warung seperti ini bisa lebih nyaman berdiskusi dan yang terpenting lebih merakyat,” katanya.

Di warung ini pula, Senator yang sudah dua periode menjadi anggota DPD RI mewakili Jawa Timur itu menyampaikan sejumlah hal, mulai bahaya COVID-19, Gagasan pendirian Provinsi Madura hingga topik lainnya yang menyangkut programnya sebagai senator.

“Saya terkesan dengan warung kopi Pak Saleh ini. Warungnya kaki lima tetapi rasanya kopi bintang lima,” katanya disambut riuh tepuk tangan para pengunjung warung tersebut.


Bahkan dalam kesempatan itu pula, Ahmad Nawardi bersama sejumlah pengunjung warung tersebut menyempatkan diri berkeliling kota Pamekasan dengan menaiki Odong-odong.

Sementara itu, Mohammad Solehoddin (64) yang biasa dipanggil Pak Saleh, mengaku senang warungnya dikunjungi oleh pejabat negara yakni anggota DPD RI. “Alhamdulillah ada pejabat yang mau ngopi di sini,” katanya.

Pak Saleh menceritakan, awalnya warung ini didirikan dengan ukuran 2 x2 meter, dengan pelanggan rata-rata mahasiswa. Sebab tepat di depan warungnya merupakan kampus STAIN Pamekasan (Saat ini menjadi kantor pelayanan Haji Terpadu Kemenag Pamekasan).

“Dulu yang ngopi di sini cuma mahasiswa, tetapi sekarang sudah dari berbagai kalangan,” katanya.

Pada awal berdiri, yakni 33 tahun lalu harga kopinya hanya Rp 500 dan saat ini sudah naik menjadi Rp 3000. Jenis kopi yang dijual juga sudah beragam, mulai kopi hitam, kopi jahe, kopi susu dan juga disediakan Mie Telur, telur rebus, gorengan, kerupuk dan juga rokok eceran.

Pak Soleh beralasan, ia tetap tidak menaiikkan harga kopinya meskipun di tengah pandemi. Padahal para pelanggan di warung ini dari berbagai profesi, mulai aktivis mahasiswa, jurnalis, politikus, anggota dewan, pejabat pemerintah seperti kepala dinas, kepala desa, pengusaha, anggota TNI dan Polri bahkan abang becak.

Wajar apabila kendaraan pelanggan di warung ini banyak beroda empat. Dan parkiran mobil memanjang di jalan Brawijaya tersebut. “Harganya ya tetap tidak saya naikkan, tetap Rp 3000 saja,” katanya.

Berbeda dengan pedagang kopi pada umumnya, Pak Soleh begitu ia biasa dipanggil, memang mengutamakan aroma dan kualitas air mendidih alami. Oleh karenanya ia merebus air dengan kayu bakar bukan dengan kompor gas, ataupun minyak tanah.

“Kalau masak menggunakan gas, aromanya berbeda. Makanya khusus untuk membuat kopi ini, saya sengaja tidak menggunakan kompor, tetapi pakai kayu,” paparnya.

Selain pola pembuatan yang memang tradisional, kenikmatan kopi Pak Saleh juga karena dicampur jahe, dengan cara mencampur kopi dan gula yang cukup terukur, sehingga rasanya sangat khas.

Ghozi Imaz, yang merupakan pelanggan tetap warung ini menuturkan, ia sudah lama menjadi penikmat kopi di warung kecil ini. Selain karena aroma kopinya yang khas, di warung ini juga tempat untuk berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk tentang kondisi Pamekasan.

Selain itu, kata pria yang merupakan jurnalis senior ini, warung ini menjadi tempat sejumlah wartawan berkumpul baik sebelum maupun sesudah liputan.

“Kopinya memang enak, sangat khas, apalagi di sini menjadi tempat teman-teman berkumpul dan berdiskusi,” katanya.(Ist/Arif)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.