Pamekasan, (Media Madura) – Penerbit dan percetakan buku yang berskala nasional biasanya berada di kota-kota besar dan pusat-pusat kota di Indonesia, tetapi rupanya di Dusun Lekoh Barat, Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, ada penerbit sekaligus percetakan buku yang juga berskala nasional. Duta Media Publishing (Duta Media.red), demikian nama yang tercatat dalam KDT (Katalog Dalam Terbitan) Perpustakaan Nasional RI.

Penerbit ini rupanya sudah didirikan sejak tahun 2015 dengan badan hukum resmi dibawah perusahaan CV Duta Media. Sejak awal berdirinya, Duta Media sengaja menyerap tenaga kerja dari warga sekitar.

Lebih dari 100 judul buku yang telah diterbitkan oleh Duta Media. 80% karya asli penulis Madura, 15% karya penulis dari pulau Jawa dan 5% berasal dari Sumatra dan NTB, seperti Aceh, Riau, Lombok dan Bima.

Direktur perusahaan ini, Moh Afandi mengatakan, keinginan mendirikan penerbit buku berawal dari kegelisahan pribadinya, karena setiap orang yang mau menerbitkan buku harus ke Yogyakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

“Itupun dari sekian penulis yang ingin menerbitkan tulisannya hanya sebagian kecil saja yang dihargai oleh penerbit luar kota itu. Padahal dalam setiap hembusan nafas orang Madura adalah karya emas yang tak ternilai harganya” katanya kepada mediamadura.com. Selasa (05/02/2019) pagi.

Selain itu, kata dia, ada kecenderungan bahwa penulis Madura enggan berkarya karena tidak ada wadah dan penerbit yang mau menerbitkan karyanya.

“Atas dasar itu juga maka kami ingin agar karya-karya penulis Madura bisa terbit dan kami ingin menjadi wadahnya,” urainya.

Dikatakan Afan, sapaan akrab Moh Afandi yang saat ini sedang menyelesaikan S3 nya di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, sejak resmi terdaftar sebagai anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI)
pada tahun 2017 lalu, minat kaum akademisi di Madura semakin besar untuk menerbitkan buku di Duta Media.

“Sejak tahun 2017 juga, kami sering mendapatkan undangan untuk mengikuti event-event pameran internasional, seperti London Book Fair, Seoul Internasional Book Fair dan banyak lagi, tetapi kami tidak bisa menghadirinya, karena terkendala amunisi (dana),” candanya sambil tertawa.

Afan berharap agar iklim literasi di Madura khususnya di Kabupaten Pamekasan terus tumbuh dan lahir penulis-penulis hebat.

“Kami ini hanya wadah, jauh dari semua itu kami mempunyai cita-cita besar agar di Kabupaten Pamekasan lahir penulis-penulis hebat dan bersaing di kancah nasional,” harapnya.

Cita-citanya untuk mendirikan usaha kampungan yang go nasional bahkan internasional tidak berhenti di situ. Rupanya pria kelahiran 1984 itu, sejak awal 2019 sudah menggagas beberapa jenis usaha kreatif yang mengangkat kekayaan lokal bersama masyarakat sekitar di kampungnya.

Penulis : Ist
Editor : Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.