Yaman, (Media Madura) – Sebanyak 14 pelajar asal Madura resmi menyandang gelar sarjana usai diwisuda di Universitas Al-Ahgaff, Tarim, Hadramaut, Yaman, Kamis (16/4/2026). Prosesi wisuda ke-27 itu digelar di Aula Mahsun sekitar pukul 18.30 waktu setempat, diikuti total 211 wisudawan.
Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri jajaran civitas akademika, mulai dari rektor, dosen, hingga mahasiswa. Tak hanya itu, sekitar 2.000 undangan termasuk wali mahasiswa dan tamu dari berbagai lembaga turut memadati lokasi. Prosesi diawali dengan pembacaan maulid bersama di masjid kampus, yang diharapkan membawa keberkahan bagi seluruh rangkaian acara.
Ke-14 lulusan asal Madura tersebut berasal dari berbagai daerah, seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Dari jumlah itu, 11 mahasiswa mengambil Jurusan Syariat, sementara 3 lainnya di Jurusan Sunah.
Ke-14 mahasiswa yang membawa nama Madura harum di kancah internasional tersebut adalah Ahmad Ar-Rifa’i (Bangkalan), Ahmad Kaffaby (Bangkalan), Ainur Rofik (Bangkalan), Dhiya’ul Haq (Bangkalan), Muayyad (Bangkalan), Muhammad Junaidi (Bangkalan), dan Muhammad Naufal (Bangkalan).
Selanjutnya, Asyroful Waro (Sampang), Muadzin (Sampang), Muhammad Ridho (Sampang), Sultan Ahmad Faisol (Sampang), Abdul Haq (Pamekasan), Ahmad Saifi Ar-Rozi (Pamekasan), dan Mizan Maulana Ahmad (Sumenep).
Sejumlah prestasi juga berhasil diraih. Ahmad Kaffaby dan Mizan Maulana Ahmad sukses menghafal 30 juz Al-Qur’an. Muadzin meraih predikat cum laude. Sementara Ainur Rofik mencatat capaian ganda, hafal 30 juz sekaligus lulus dengan predikat cum laude.
Menempuh pendidikan di Universitas Al-Ahgaff bukan hal mudah. Kampus ini dikenal dengan disiplin tinggi dan standar akademik yang ketat. Tidak sedikit mahasiswa yang harus gugur di tengah jalan sebelum menyelesaikan studi. Karena itu, keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi para wisudawan setelah menjalani proses sekitar lima tahun.
Salah satu wisudawan, Ainur Rofik, mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut. Ia menyebut keberhasilan ini tak lepas dari pertolongan Allah SWT serta doa orang tua, guru, dan orang-orang terdekat.
Ia juga membagikan dua prinsip yang menjadi penyemangat selama menempuh pendidikan. Pertama, nasihat dari Habib Abdul Qodir Ba’abud yang ia pegang: “Mon ta’ kellar, keng ta’ terro” (jika tidak mampu, berarti belum ada kemauan). Kedua, kebiasaan berdoa setelah salat agar menjadi pribadi yang beruntung.
“Dua hal itulah yang mengantarkan al-faqir hingga sampai di titik ini,” ujarnya.
Kisah para wisudawan ini menjadi bukti bahwa kesabaran, ketekunan, dan konsistensi mampu mengantarkan pada hasil membanggakan. Mereka juga membuka harapan bagi generasi lain untuk berani menempuh jalan serupa dalam meraih ilmu dan prestasi. (Znl/Arif)
Redaksi kiriman dari Muhammad Iqbal Abrori


