Wakil Ketua Komite Sekolah menunjukkan surat kesepakatan bersama pengelola dengan masyarakat, Selasa (01/10/19). (Zainal /MM).

Sampang, (Media Madura) – Sudah setahun terakhir, aktivitas belajar siswa SDN Morbatoh III di Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, terganggu akibat debu pertambangan galian C yang berjarak hanya 50 meter dari lokasi sekolah.

Debu tambang itu selalu mengotori seluruh lingkungan sekolah, meski rutin dibersihkan. Tak hanya sekolah, pemukiman penduduk juga terkena imbas debu tambang galian C.

“Setiap pagi sebelum jam pelajaran, guru dan siswa disibukkan untuk membersihkan debu Sirtu di semua ruangan kelas, karena dampak pertambangan itu apalagi kendaraan dum truk yang mengangkut tidak ditutup terpal,” kata Wakil Komite Sekolah Maksum, Selasa (01/10/19).

Maksum (47) menyampaikan, pihak pengelola tambang galian C ternyata ingkar dengan kesepakatan bersama yang dibuat pada 27 Agustus 2019 kemarin. Kesepakatan dilakukan antara perwakilan masyarakat setempat dengan pengelola dan diketahui Muspika.

Isi kesepakatan itu yakni pengelola melakukan koordinasi dan pengawasan dampak penambangan, melakukan penyiraman sepanjang akses jalan saat jam operasional, perusahaan diminta memberikan bantuan sumur bor sebagai konsekuensi aktivitas pertambangan.

“Sebenarnya persoalan ini sudah lama, maka itu masyarakat membuat kesepakatan bersama, pemilik tambang mengaku siap dan sanggup melakukan penyiraman setiap hari, kenyataannya hal itu jarang dilakukan termasuk sumur bor,” ungkapnya.

Menurut Pengelola Galian C di Desa Morbatoh, Hilmi menyampaikan pihaknya sudah menjalankan kesepakatan tersebut dengan menyiram akses jalan penambangan. Hanya saja, faktor cuaca yang menyebabkan debu kembali bertebaran.

“Sudah kami siram kok, cuaca yang panas dan disertai angin kencang mengakibatkan debu terbang kemana-mana, termasuk sudah membangun sumur bor yang dikhususkan untuk menyiram lokasi sekolah, lokasi sumur bor ditempatkan di lokasi pertambangan,” jelasnya.

Dia menuturkan, penempatan sumur bor di lokasi penambangan karena pihak sekolah dan Korbidikcam kurang setuju pengeboran sumur berada di halaman sekolah.

Sementara itu, Koordinator Pendidikan Kecamatan (Korbidikcam) Banyuates Moh Dahlan membantah pihaknya tidak setuju dengan rencana pengeboran sumur yang akan dilakukan di sekolah. Saat itu, dirinya hanya meminta waktu kepada pemilik tambang untuk mengajukan izin kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang.

Disdik memberikan izin dengan catatan sekolah tidak diberatkan dengan biaya listrik dan semacamnya. “Tidak benar kalau saya dikatakan tidak setuju dengan rencana itu, sebagai pengawas di kecamatan kami punya atasan dan harus izin dulu ke dinas, apalagi itu tanah pemkab,” pungkasnya.

Reporter : Zainal
Editor : Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.