Oleh : Dwi Budayana ED

*) Penulis Adalah Arsitek, tinggal di Kabupaten Pamekasan.

Léspéker adalah kata benda dalam bahasa Madura. Artinya, alat pengeras suara. Diadopsi dari bahasa Belanda, Luidspreker. Bisa juga dari bahasa Inggris, Loudspeaker. Belanda dan Inggris memang pernah menjajah Indonesia. Utamanya, Belanda, yang betah menjajah sampai tujuh turunan. Jadi, bisa dimaklumi, jika bahasa-bahasa daerah di Indonesia banyak mengadopsi bahasa Belanda. Termasuk bahasa Madura.

Léspéker merupakan salah satu jenis alat elektronik. Ditemukan pertama kali oleh Alexander Graham Bell, yang juga penemu pesawat telepon, pada tahun 1876. Hingga tahun 1920, dilakukan banyak pengembangan oleh beberapa orang.

Lazimnya, Léspéker digunakan untuk membuat suara yang lirih/tidak begitu keras menjadi lebih keras atau lebih lantang. Jangkauannnya pun menjadi semakin jauh. Bisa hingga puluhan bahkan ratusan meter. Tujuannya, untuk memberikan informasi atau pengumuman. Misalnya di Mesjid, Musholla atau Langgar, digunakan untuk pengeras suara adzan atau bacaan ayat-ayat suci Al qur-an. Supaya didengar dan diketahui oleh banyak orang di sekitarnya. Dalam ilmu komunikasi, Léspéker termasuk dalam kategori alat komunikasi yang sifatnya satu arah.

Agar bisa berfungsi sebagai mana mestinya, Léspéker tidak berdiri sendiri. Butuh dukungan alat-alat elektronik lainnya, yaitu mikrofon atau sumber suara lain, kabel, amplifier dan sumber tenaga listrik. Seperangkat alat elektronik tersebut, bisa digunakan untuk lebih dari satu Léspéker. Tergantung kepentingan dan status sosial. Namun yang pasti, tergantung pada banyaknya lubang colokan di amplifier.

Di Madura, khususnya di wilayah perdesaan, ada fenomena menarik berkaitan dengan Lèspéker. Yakni, menjadikan Léspéker tidak hanya sebagai alat komunikasi satu arah saja, tapi bisa juga untuk dua atau banyak arah.

Kondisi permukiman di wilayah perdesaan di Madura umumnya adalah berkelompok. Pada satu kampung atau dusun, biasanya terdapat beberapa kelompok permukiman. Satu kelompok permukiman terdiri dari beberapa rumah, yang penghuninya terikat oleh hubungan kekeluargaan. Jarak antara satu kelompok dengan kelompok lainnya berjauhan. Biasanya dipisah oleh hamparan persawahan, lembah, perbukitan, hutan atau sungai.

Dalam satu kelompok permukiman itulah, terdapat satu perangkat alat pengeras suara atau Léspéker. Tiangnya menjulang, bisa terbuat dari bambu atau pipa besi. Ada yang diikatkan pada pohon, dinding dan atap rumah atau langsung ditanam di tanah. Tingginya kisaran 10 meter. Bisa diputar, tergantung kebutuhan. Perangkat Léspéker itulah yang digunakan untuk berkomunikasi dengan kelompok permukiman lainnya.

Contoh komunikasi dua arah (atau lebih) yang terjadi, misalnya ketika salah seorang anak dari kelompok timur bermain ke kelompok barat. Berhubung sudah sore, maka dipanggil pulang menggunakan Léspéker. Kelompok barat menjawab, bahwa anak tersebut sudah tidak bermain di situ. Beberapa detik kemudian, kelompok utara memberi kabar, melalui Léspéker juga, bahwa anak yang dicari ada di situ dan sudah disuruh pulang.

Atau ketika berencana bepergian secara bersama-sama untuk suatu urusan tertentu. Misalnya alalabád (melayat) atau asajárá (mengunjungi kerabat yang baru pulang dari tanah suci baik ibadah haji atau umrah). Satu kelompok bertanya waktunya, titik kumpulnya, naik apa dan sebagainya. Kelompok lain bersahutan memberikan pendapat. Sampai benar-benar sepakat. Sangat sederhana, daripada harus bolak-balik saling mengunjungi.

Dwi Budayana ED

Contoh lain, misalkan ketika ada distribusi bantuan dari desa. Oleh petugas/perangkat desa, bantuan tersebut dititipkan di satu kelompok permukiman. Selanjutnya kelompok yang bersangkutan memberikan pengumuman melalui léspéker, bahwa bantuan sudah datang dan harap segera diambil. Tak butuh waktu lama, melalui léspéker pula, kelompok-kelompok lain merespon dengan jawaban ; Ashiiiaaaaaap…!!!

Apakah alat komunikasi moderen, ponsel misalnya, tidak punya? Atau aplikasi media sosial yang sedang nge-trend, WhatsUp misalnya, tidak ada? Jawabannya sudah punya dan sudah ada. Apalagi, jika ada keluarga yang menjadi TKI atau TKW. Pasti butuh HP sebagai alat komunikasi.

Lantas mengapa masih setia pada Léspéker sebagai alat komunikasi lokal? Alasannya ; lebih murah dan lebih mudah. Sekali beli seperangkat alatnya, dipakai selamanya. Sulit rusak. Tidak butuh sinyal seluler, pulsa atau paket internet. Apalagi, penggunaan HP di perdesaan kadang terkendala oleh sinyal yang tidak konsisten. Selain itu, Léspéker mudah di on/off-kan kapan saja, selama ada aliran listrik. Kebutuhan tenaga listrik juga tidak seberapa besar. Lebih irit biaya.

Pun, satu perangkat bisa dimanfaatkan oleh beberapa orang dalam satu kelompok. Digunakan untuk menghubungi satu atau beberapa orang pada satu atau beberapa kelompok sekaligus. Bahkan, bisa untuk menghubungi warga satu kampung. Praktis, efektif dan efisien.

Yang perlu digarisbawahi, meskipun relatif mudah, penggunaan léspéker tidak sembarangan. Pertama perihal orang yang menggunakan. Yang utama adalah kepala keluarga. Atau setidaknya orang yang sudah dewasa. Anak-anak sebisa mungkin dilarang. Hal ini dimaksudkan supaya apa yang disampaikan adalah sesuatu yang serius dan tidak main-main. Kedua perihal waktu penggunaan. Léspéker hanya dinyalakan ketika ; 1) ada hal yang benar-benar harus segera disampaikan, 2) merespon apa yang disampaikan oleh kelompok lain. Selebihnya, léspéker dalam posisi off.

Sebagai kesimpulan, dalam hidup bermasyarakat, komunikasi memegang peranan penting. Komunikasi yang baik, menimbulkan interaksi yang baik pula. Cara dan kebiasaannya tergantung pada masing-masing komunitas mayarakat di daerah tertentu. Yang pasti, tujuannya satu yaitu menciptakan kerukunan dan kenyamanan demi tercapainya tujuan bersama.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.