Ilustrasi (foto google)

Sampang, (Media Madura) – Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur menutup dua lembaga sekolah menengah pertama (SMP) di wilayah itu, karena keberadaan lembaga tersebut tidak produktif dan bermasalah. Sekolah itu berada di Kecamatan Pangarengan dan Torjun, Rabu (13/2/2019).

Hal itu disampaikan Kabid Pembinaan SMP Disdik Sampang Budiono. Dia mengatakan, penutupan dua lembaga SMP dikarenakan kegiatan belajar mengajar tidak berjalan dengan baik, jumlah guru dan siswa minim, serta sarana dan prasarana tidak memadai.

“Sekolah yang tidak produktif izin operasionalnya tidak akan diperpanjang, otomatis sekolahnya ditutup,” ujar Budiono.

Disdik mencatat, jumlah SMP swasta di Sampang mencapai 219 lembaga. Saat ini tersisa 217 lembaga setelah dua lembaga ditutup.

Sebelum dilakukan penutupan, Disdik berupaya melakukan kajian dan evaluasi persoalan yang terjadi di dua SMP itu. Pembinaan kepada pengelola dengan maksud agar lembaga tersebut tetap produktif.

Namun, upaya ini tidak berhasil dan pihak pengelola tidak mau mengajukan perpanjangan izin operasional kepada Disdik.

“Iya solusinya sekolah itu ditutup,” tegasnya.

Budiono menjelaskan, pihaknya mulai 2018 kemarin memperketat pengajuan permohonan izin pendirian dan operasional sekolah. Pemohon harus mengajukan persyaratan lengkap dan akan dilakukan studi kelayakan secara berjenjang.

Hal itu berdasarkan Permendikbud Nomor 36 Tahun 2014 tentang pedoman pendirian, perubahan, dan penutupan satuan pendidikan dasar dan menengah. Aturan tersebut diperkuat dengan Perda Nomor 12 Tahun 2017 tentang pendidikan.

“Kita sekarang izin pendirian sekolah baru harus melalui studi kelayakan, apakah sekolah itu layak atau tidak,” jelasnya.

Persyaratan lainnya harus melampirkan rencana pengembangan sekolah, biaya sekolah, dan modal yang dikeluarkan yayasan untuk membiayai operasional minimal untuk tiga tahun pertama setelah sekolah beroperasi. Selain itu, pihak yayasan harus memiliki skema pengembanga sekolah minimal tiga tahun untuk jenjang SD dan enam tahun untuk jenjang SMP.

“Dengan begitu anak-anak yang bersekolah bisa memiliki kepastian sampai mereka lulus,” tuturnya.

Sementara Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana, menyampaikan jumlah SMP swasta di Sampang paling banyak dibandingkan empat kabupaten lainnya. Tetapi hal itu tidak ditopang dengan kualitas dan mutu pendidikan yang baik. Padahal, kualitas sekolah menjadi faktor utama kunci keberhasilan pendidikan.

“Disdik harus maksimal mengawasi mengelola SMP swasta, terutama terkait mutu pendidikan,” tegasnya.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.