Presiden RI Jokowi menghadiri deklarasi akbar ulama se-Madura di Gedung Ratu Ebo Bangkalan, Rabu (18/12/2018). (Ryan Hariyanto/MM).

Bangkalan, (Media Madura) – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menghadiri Deklarasi Akbar Ulama Madura di Gedung Ratu Ebu Kabupaten Bangkalan, Rabu (19/12/2018).

Pukul 09.45 WIB, Jokowi tiba di Pendopo Bangkalan. Ia tampak mengenakan peci hitam dan baju koko lengan panjang putih. Jokowi disambut putri Almarhum Abdurrahcman Wahid atau Gus Dur Yenny Wahid, Bupati Bangkalan Abd Latif Amin Imron dan isteri.

Saat menuju ke Gedung Ratu Ebo, Jokowi menaiki delman dari halaman pendopo. Ratusan warga yang hadir di sekitar alun-alun menyambut kedatangan Presiden.

Dalam kesempatan itu, Jokowi menanggapi isu Partai Komunis Indonesia (PKI) yang belakangan santer dituduhkan kepada dirinya.

“Isu Presiden Jokowi PKI sudah muncul sejak empat tahun lalu,” ucapnya saat memberi sambutan di hadapan ulama se Madura, Rabu (19/12/2018).

Pada awalnya, Jokowi mengaku enggan menjawab tuduhan-tuduhan keji tersebut. Akan tetapi, fitnah terhadap dirinya yang disebut sebagai anggota PKI justru semakin berkembang menjadi isu liar di tengah-tengah masyarakat.

“Hari ini saya harus menjawab dan menanggapi isu itu, karena setelah dilakukan survei penelitian ternyata lebih dari sembilan juta orang mempercayainya,” terangnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut khawatir jika fitnah yang dituduhkan kepada dirinya tidak disikapi, kemungkinan besar orang yang percaya terhadap isu PKI itu akan semakin banyak. Bahkan jumlahnya bisa meningkat menjadi 10-12 juta orang.

“Saya lahir tahun 1961, sedangkan PKI dibubarkan pada tahun 1965-1966. Jadi saat itu, saya baru berumur empat tahun. Mana mungkin saya dituduh anggota PKI, kan tidak ada PKI balita” jelasnya.

Jokowi sangat menyayangkan terhadap maraknya tuduhan PKI tersebut. Apalagi, isu ini dikembangkan hingga menyeret nama orang tuanya, kakek dan neneknya yang disebut juga sebagai anggota PKI.

“Ada juga gambar yang beredar di media sosial DN Aidit sedang berpidato pada tahun 1955. Di sampingnya ada sosok yang dibilang mirip saya. Tahun itu saya kan belum lahir,” paparnya.

Menurutnya, menyebarkan isu PKI merupakan cara-cara berpolitik yang tidak bertata krama dan tidak beretika. Seharusnya, masyarakat diajarkan berdemokrasi dan berpolitik yang santun sesuai budaya Indonesia.

“Perlu saya sampaikan, bahwa saya dan keluarga adalah seorang muslim. Kalau tidak percaya silahkan dicek ke rumah di Solo. Di era keterbukaan seperti sekarang sangat mudah mengecek,” tegas Jokowi.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.