PANEN MELIMPAH: Ahmad Sahrah (45) warga Dusun Sumber Papan, Desa Larangan Badung, Palengaan, saat menunjukkan hasil budidaya lele kepada wartawan mediamadura.com (foto: Ahmad Rifqi/MM)

Pamekasan, (Media Madura) – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur terus berupaya meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan lele di wilayah itu. Salah satunya dengan cara memberikan pembinaan kepada Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) berupa sistem bioflok atau budidaya tebar padat.

Kepala Dinas Perikanan Pamekasan, Nurul Widiastuti mengatakan, saat ini ada 8 Pokdakan yang tersebar di beberapa kecamatan telah menggunakan sistem budidaya tersebut. Alhasil, sistem bioflok ini membuat pembudidaya bisa lebih efektif dan efisien. Menurutnya, sistem ini menggunakan media kolam bundar yang dibuat menggunakan cetakan kolam instan.

“Sistem bioflok atau tebar padat benih ikan lele diterapkan sebagai paket percontohan di Pamekasan, Alhamdulillah tidak ada keluhan dari pembudidaya,” katanya kepada mediamadura.com, Jumat (13/12/2018).

Nurul menjelaskan, yang dimaksud efektif dan efisien bagi pembudidaya ikan tersebut, karena dengan sistem ini pembudidaya bisa hemat pakan, hemat air, dan hemat tempat.

“Agar penerapan sistem bioflok ini optimal maka pembudidaya didampingi oleh tenaga pendamping. Berat ikan dan jumlah pakan yang dihabiskan dicatat agar hasilnya akurat. Nanti analisa usahanya bisa dilihat di website Dinas Perikanan Pamekasan,” tambahnya.

Kolam yang digunakan yaitu kolam bundar berukuran diameter 2,5 centimeter dengan tebar bibit lele sebanyak 5 ribu ekor, saat ukuran bibit ukuran 8 centimeter.

Dari 5 ribu bibit ada sekitar 100 ekor lele yang mati atau sekitar lima persen. Faktornya karena cuaca yakni pergantian musim baik dari musim panas ke musim hujan dan sebaliknya.

Salah seorang pembudidaya lele asal Dusun Sumber Papan, Desa Larangan Badung, Palengaan, Ahmad Sahrah (45) menyatakan, dengan sistem yang diarahkan tim dari Dinas Perikanan membuahkan hasil, terbukti ia bisa panen lele dengan ukuran standar tidak sampai 2 bulan.

“Ini ada catatannya, tanggal 17 Oktober 2018 masuk kolam berarti tidak sampai dua bulan bisa panen untuk dijual,” katanya saat ditemui medimadura.com di kolam lelenya.

“Semuanya serba irit, air tidak usah ganti karena menggunakan airator yang fungsinya sebagai suplay oksigen,” tutup Sahrah dengan ketawa khasnya.

Reporter: Ahmad Rifqi
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.