Ilustrasi

Pamekasan, (Media Madura) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan, Madura, Jawa Timur mengimbau agar pimpinan perusahaan tidak memaksa karyawannya yang Islam mengenakan atribut Natal.

Hal itu disampaikan oleh MUI Pamekasan melalui selebaran Tausiyah tentang perayaan hari Natal dan pergantian tahun baru.

Dalam selebaran yang ditandatangani Ketua Umum MUI Pamekasan KH Ali Rahbini Latif dan Sekretaris Umum Drs. Imam Santoso, M. Si itu juga melarang umat muslim merayakan hari Natal dan pergantian tahun baru 2019.

Yaitu melarang pengusaha industri atau pertokoan untuk menyuruh atau memaksa karyawannya memakai atribut natal atau tahun baru. Selain itu dilarang meniup terompet, memakai topi sanbenato, berpakaian ala sinterklas, membakar petasan atau kembang api, membunyikan lonceng dan sirine.

Dilarang balapan motor, membunyikan sound system tari-tarian dengan membuka aurat serta bercampur baur antara laki-laki dan perempuan.

Pemerintah diminta agar mensosialisasikan tausiyah tersebut serta menindak tegas pelaku semua bentuk pelanggaran penyakit masyarakat dan kemaksiatan sesuai undang-undang yang berlaku.

Orang tua berkewajiban memberikan contoh dan nasihat kepada putra-putrinya agar menghindara kegiatan dimaksud diatas.

Reporter: Ahmad Rifqi
Editor: Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.