Ilustrasi

Sumenep, (Media Madura) – Setelah mendapatkan instruksi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat, KPU Sumenep, Madura, Jawa Timur telah menyelesaikan pendataan ‘orang gila’ atau penyandang tuna grahita.

Hasilnya, KPU menemukan sebanyak 117 pemilih penyandang grahita atau keterbelakangan mental. Jumlah tersebut sudah masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Data tersebut berdasarkan hasil pencocokan dan penelitian pemilih (Coklit) oleh Panitia Pemungutan Suara (PPS). Selanjutnya, KPU tinggal menyampaikan data pemilih grahita tersebut ke KPU pusat.

“Sampai saat ini belum ada laporan baik dari PPS maupun PPK mengenai kemungkinan data pemilih tuna grahita bertambah,” kata Komisioner KPU Sumenep, Rahbini, Selasa (4/12/2018).

Dia mengatakan, sebelum KPU menginstruksikan untuk melakukan pendataan terhadap tuna grahita sebagai tindak lanjut rekomendasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), sebenarnya pihaknya telah menandai pemilih penyandang grahita.

Sebab, menurut mantan aktivis Jogja tersebut, tuna grahita bukan penderita gangguan kejiwaan sebagaimana yang dipahami banyak orang, melainkan penyandang kelainan dalam pertumbuhan dan perkembangan pada mental intelektual.

“Jadi, KPU tidak mendata orang gila. Tetapi mendata tuna grahita,” tegasnya.

Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) nomor 11 tahun 2018, tentang pemilih di dalam negeri yang memperbolehkan penyandang disabilitas mental memang sempat menuai pro kontra. Sebab, beda penanfsiran terhadap PKPU itu.

Alhasil, meski KPU telah melaksanakan rekomendasi Bawaslu untuk mendata disabilitas mental (tuna grahita) yang didasarkan pada PKPU itu, penjelasan tentang pemilih tuna grahita tersebut masih simpang siur, sehingga banyak yang memahami bahwa KPU memperbolehkan orang gila untuk menyoblos.

Reporter: Rosy
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.