Kantor PDAM Sampang di Jalan Rajawali

Sampang, (Media Madura) – DPRD menyebut Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Trunojoyo Sampang masuk kategori perusahaan tak produktif. Hal itu sesuai penilaian yang dikeluarkan Badan Peningkatan Penyeleggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada 2017 lalu.

“Penilaian BPPSPAM itu PDAM Trunojoyo sebagai BUMD menyandang predikat perusahan yang tidak produktif, nilai kinerja yang didapatkan rendah yakni 2,68 persen,” kata anggota Komisi II DPRD Sampang Syamsuddin, Rabu (28/11/2018).

Syamsuddin mengatakan, dalam penilaian itu meliputi 18 kriteria, salah satunya pelayanan, pengelolaan keuangan, operasional, dan aspek Sumber Daya Manusia (SDM) petugas. Untuk itu, dirinya menilai kinerja PDAM belum maksimal memberikan pelayanan kepada masyarakat atau pelanggan.

Buktinya, 3.000 dari 6.751 pelanggan diketahui tanpa water meter. Kondisi tersebut membuat BUMD di Sampang tersebut menyandang predikat perusahan yang tidak produktif.

“PDAM segera berbenah dengan menangai semua permasalahan yang ada terutama hal pelayanan, mulai dari supplay air kerumah pelanggan, pemasangan water meter dan penagihan tunggakan pelanggan,” tuturnya.

Politikus Hanura itu menuturkan, program pemasangan meterisasi harus menyeluruh kesemua pelanggan. Hal itu agar pemakaian air bisa terkontrol dengan baik. Pengelolaan sistem distribusi air kepada sambungan rumah (SR) pelanggan. Sebab, selama ini PDAM masih menggunakan sistem atau jaringan baypass atau langsung. Padahal, sistem tersebut justru mengakibatkan tingkat kehilangan air cukup besar.

Data PDAM Trunojoyo menyebutkan dalam setahun perusahaan tersebut selalu kehilangan volume air sekitar 1.600 ribu kubik. Akibatnya, PDAM selalu mengalami kerugian sebesar Rp 5, 1 miliar per tahun.

“Selain itu tunggakan pembayaran dari pelanggan secepatnya harus ditagih dan diselesaikan agar PAD bisa mencapai target yang ditentukan,” jelasnya.

Menanggapi itu, Kabag Hubungan Langganan (Hublang) PDAM Trunojoyo Sampang Yazid Solihin mengakui banyak pelanggan yang belum terpasang meteran air. Program meterisasi disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dan ketersedian anggaran. Termasuk, juga sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk masyarakat.

Diakui atau tidak, pelanggan yang tidak menggunakan meteresasi tidak diketahui secara pasti berapa kibik pemakaian air dalam sebulannya. Namun, sistem pembayaran administrasi bagi mereka yaitu standarisasi. Artinya, disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga dan kebutuhan air setiap hari.

”Kami akui masih banyak pelanggan yang belum menggunakan meteran air, kalau dirata-rata jumlahnya kurang lebih sekitar enam ribu pelanggan,” terang Yazid.

Menurut dia, pemberlakukan sistem standarisasi memang kurang efektif dan tidak adil bagi semua pelanggan. Dengan begitu, setiap bulan pihaknya selalu berupaya melakukan pemasangan meter air antara 50 -100 meter. Juga mengganti meteran yang sudah rusak.

Jika terdapat kerusakan water meter yang terjadi diluar faktor alam. Perbaikan merupakan tanggungjawab pelanggan itu sendiri. Akan tetapi, jika kerusakan terjadi karena faktor alam akan pihaknya akan mengganti alat tersebut dengan yang baru.

“Setiap tahun kami akan terus upayakan pemasangan meteran air baru untuk pelanggan agar pemakaian air dari pelanggan bisa terkontrol, tahun ini kami sudah memasang atau mengganti meteran sekitar 255 pelanggan,” ucapnya.

Lanjut Yazid, pihaknya juga mengganti pipa dari ACP ke HDPE ukuran enam dim dari sumber Gunung Maddah dan sumber Glisgis ke sejumlah titik lokasi di kecamatan Kota. Tujuannya untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada pelanggan dan menambah sambungan baru dengan target tiga ribu pelanggan.

”Kami akan terus berupaya membenahi dan menangani semua persoalan yang terjadi, kami optimistis tahun depan PDAM bisa keluar dari predikat perusahan tak produktif,” pungkasnya.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.