Ilustrasi

Sumenep, (Media Madura) – Banyak cara yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk memperingati Hari Guru, mulai dari sekedar menyampaikan ucapan selamat hingga mengunggah kisah dan perjuangan guru. 

Diantaranya kisah inspiratif yang saat ini kembali terangkat ke permukaan adalah kisah seorang guru difabel asal Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur bernama Pak Untung. 

Tentu, kisah guru honorer Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Ulum ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebab, kegigihan dia mengajar di tengah keterbatasan fisiknya sudah menjadi buah bibir sejak beberapa tahun lalu, bahkan ia sudah beberapa kali diundang ke acara talk show televisi untuk berbagi kisah inspiratif.

Kita semua memang layak belajar banyak dari Pak guru Untung ini, karena meski tak memiliki lengan, semangat mengajar seperti tak pernah habis dari dirinya. Apalagi 23 tahun menjadi guru dan hanya menerima gaji tak sampai Rp. 500 ribu sebulan. 

Setiap diwawancarai wartawan, Pak Untung selalu bilang, bahwa dirinya ikhlas menjalani tugas mengajar meski tak dibayar seberapa, karena dirinya menganggap kegiatan mengajar sebagai ladang pahala bagi dirinya.

Pak guru Untung tidak memiliki lengan adalah sebuah fakta, namun semua kekurangan yang dimiliki Pak Untung tidak pernah membuatnya menjadi orang yang lemah, sebaliknya menjadi pemacu dirinya menjadi orang yang bermanfaat.

Terbukti, ia tetap menjadi seorang yang optimis dan tetap bekerja dengan giat seperti orang normal yang lain. Profesi mulianya sebagai seorang guru tetap ia jalani dengan ikhlas dan sepenuh hati.

Kerja keras dan perjuangannya menjadi seorang guru profesional dibuktikan dengan kemampuan kakinya saat ini yang bisa menggantikan tangannya. Tidak kalah dengan orang normal lainnya, jemari kaki Pak Untung dengan lihai menari-nari mengoperasikan tombol laptop.

Ia pun tidak canggung menggunakan perangkat laptop untuk mendukung pekerjaanya sebagai seorang Guru . Bukan itu saja, Pak Untung bahkan juga mampu menuliskan lafal ayat- ayat Al Quran di papan tulis untuk anak didiknya.

Diantara hikmah yang bisa dipelajari dari kisah Pak guru Untung adalah perjuangan yang tidak kenal lelah dalam menghadai kerasnya kehidupan dengan keadaan fisik yang tidak lengkap. 

Bisa kita bayangkan, bagaimana beratnya pak Untung membiasakan melakukan sesuatu dengan kakinya karena tidak memikiki lengan sama sekali. Jika ia tidak gigih, tentu ia akan menyerah begitu saja pada keadaan dan mengharap kasihan dari orang lain.

Selain itu, keinginan mengabdikan diri dalam pendidikan dengan kekurangan fisik merupakan pelajaran yang luar biasa bagi kita orang normal dengan fisik yang lengkap, apalagi dengan gaji yang tidak seberapa.

Kemudian, yang juga bisa kita contoh adalah bagaimana sikap kewirausahaanya yang kuat dan tak kenal menyerah. Dibuktikan dengan meski sudah menjadi seorang guru, Pak Untung tidak hanya mengandalkan gaji dari mengajarnya itu, tapi tetap berwirausaha dengan memelihara beberapa hewan ternak di rumahnya.

@AhlulQohwah : “Pak Untung, guru MI Miftahul Ulum, Sumenep. Keterbatasan fisik dan status honorer 22 tahun dg gaji 300 rb perbulan tak menghalangi beliau untuk mengabdi dg tulus.

Selamat Hari Guru 2018. Keberkahan selalu unt pendidik Indonesia yg mengabdi sepenuh hati,”. Demikian twit akun @AhlulQohwah tentang Pak Guru Untung pada peringatan Hari Guru 2018 ini.

Diantara serpihan kisah Pak Untung inipun saat ini kembali viral hingga mengundang respon banyak netizen. Buktinya, sudah ada sekitar 1,9 ribu Retweet, 2,8 ribu suka dan ribuan orang lainnya mengomentari.

Reporter: Rosy
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.