Bupati Sumenep, A Buysro Karim hadir di acara Rokat Tase'

Sumenep, (Media Madura) – Rokat Tase’ merupakan kekayaan tradisi lokal yang tidak perlu dipertentangkan dengan agama, karena Rokat Tase’ adalah bagian dari sejarah dan budaya masyarakat nusantara.

Namun demikian, dalam agama dilarang menyembah benda mati, sehingga dalam gelaran Rokat Tase’ tidak boleh diwarnai dengan upacara sesembahan-sesembahan yang mengarah pada perbuatan syirik.

Hal itu diungkapkan Bupati Sumenep, A.  Busyro Karim pada Festival Nelayan dan Perayaan Rokat Tase’ dalam even Visit Sumenep di Desa Aeng Panas, Kecamatan Pragaan Sumenep.

Busyro mengatakan, Rokat Tase’ merupakan kekayaan tradisi lokal yang tidak perlu dipertentangkan, karena murni bagian dari sejarah dan budaya masyarakat nusantara, khususnya di Sumenep sejak berabad-abad lamanya.

“Pada rokat tase’ yang dilarang adalah pesta memperingati alam gaib atau menyembah benda mati. Sedangkan Rokat Tase’ yang dilakukan di Sumenep termasuk kategori budaya ekologis yang disertai doa kepada Allah SWT,” ujar Busyro, Kamis (22/11/2018).

Menurutnya, Rokat Tase’ harus menjadi motivasi bagi warga nelayan maupun kawasan pantai untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan, baik di pantai maupun dilaut dengan tidak menggunakan alat-alat yang bisa merusak ekosistem laut.

“Rokat tasek memotivasi masyarakat nelayan meningkatkan produktifitas di bidang perikanan. Sebab, produksi ikan di Sumenep cukup besar yakni mencapai 58 ribu ton, namun produksi industri olahan ikan masih rendah sekitar 19 ribu 602 ton,” paparnya.

Karen demikian positif, Bupati minta Rokat Tase’ yang juga masuk dalam program Visit Sumenep 2018 terus diselenggarakan dan jangan sampai punah. Namun harus dengan sejumlah rangkaian keagamaan, seperti khataman Alquran dan doa bersama secara Islam. 

“Melalui kemasan Rokat Tase’ juga dapat memberi motivasi bagi warga nelayan dan warga sekitar untuk selalu menjaga dan merawat dengan baik kawasan pantai,” pungkasnya.

Sementara itu, gelaran Rokat Tase’ di Desa Aeng Panas ini diikuti ratusan nelayan di pesisir pantai kecamatan Pragaan yang sebelumnya di laksanakan kegiatan Khataman Qur’an dan kegiatan agama lainnya, dan di puncak acara di
lakukan prosesi Larung.

Reporter: Rosy
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.