Hoirul dan Holifah, orangtua korban penganiayaan anak menunjukkan bekas bekam yang dialami Rian, Selasa (13/11/2018). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Riyan Bahrullah (13), bocah SMP asal Dusun Perreng, Desa Kamuning, Kota Sampang, Madura, Jawa Timur, dianiaya ayah temannya sendiri, pada Selasa (2/10/2018)lalu. Penganiayaan terjadi pada pukul 06.00 WIB di halaman sekolahnya di Jalan Rajawali III.

Namun, hingga saat ini, kasus penganiayaan anak yang disebabkan hanya gara-gara tali sepatu itu belum ada perkembangan dan tindaklanjut dari polisi.

Ayah Riyan, Hoirul Kiromi (40) bersama keluarganya mendatangi Mapolres Sampang, Selasa (13/11/2018). Termasuk kakek korban, H. Mansyur juga ikut datang. Mereka mempertanyakan tindaklanjut kasus tersebut.

“Sudah 1 bulan lebih kasus penganiayaan yang dialami anak saya ini tidak ada kabarnya, entah bagaimana kok tersangka tidak ditahan, kasusnya seakan-akan lamban,” kata Hoirul Kiromi ditemui di Mapolres Sampang, Selasa (13/11/2018).

Dirinya mengatakan, kedatangannya menemui polisi untuk meminta keadilan bagi keluarga korban penganiayaan anak. Sebab, kasus tersebut dianggap tak wajar karena menimpa seorang bocah pelajar. Lebih disayangkan lagi, pelaku adalah orang dewasa bukan sesama sepantaran anaknya.

“Kasus pencurian maling ayam saja ditahan dan di proses hukum, Lah ini penganiayaan yang dilakukan orangtua teman sekelasnya, sampai sekarang masih bebas, apa hukum ini tidak ada berkeadilan bagi anak,” tanya Hoirul.

Ibu kandung korban, Holifah (35) meminta polisi memproses hukum kasus yang dialami anaknya sesuai aturan. Hal ini agar pelaku mempunyai efek jera atas perbuatannya, sekaligus memberikan pembelajaran bagi semua orang tanpa ada kasus kekerasan anak lainnya.

Orangtua korban mendatangi Mapolres Sampang, Selasa (13/11/2018). (Ryan Hariyanto/MM).

Pelaku Ditetapkan Tersangka dan Terancam 3 Tahun Penjara

Kapolres Sampang AKBP Budhi Wardiman, melalui Kasubag Humas Ipda Puji Waluyo, mengatakan saat ini berkas perkara penganiayaan anak menimpa Riyan sudah dinyatakan lengkap atau P21 oleh penyidik Polres Sampang. Dalam waktu dekat, berkar akan diserahkan ke Kejaksaan Negeri Sampang.

“Sudah P21, secepatnya mau diserahkan ke Kejaksaan,” tegas Puji kepada wartawan.

Dirinya kembali menegaskan, bahwa pelaku penganiayaan anak hingga kini tidak ditahan karena ancaman hukuman dibawah 5 tahun penjara.

Pelaku bernama Jaelani, warga Desa Aeng Sareh ini dikenakan pasal 80 ayat 1 Undangan-Undangan Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman 3 tahun 6 bulan penjara.

“Ya karena hukumannya dibawah 5 tahun, makanya tidak ditahan, tapi kalau selama penyidikan di Kejaksaan bahwa Jaksa mempunyai kewenangan bisa ditahan untuk proses pemeriksaan persidangan,” ungkapnya.

Diketahui sebelumnya, awal mula penganiayaan menimpa Riyan disebabkan hal sepele yakni tali sepatu. Ketika itu, dia menjemur sepatu miliknya di halaman sekolah.

Entah disengaja atau bercanda tali sepatu milik Riyan hilang dan diambil oleh rekan sekelasnya, Furqon. Hal itu juga dibenarkan oleh teman korban lainnya.

“Karena tali sepatu diambil Furqon, sehingga Riyan minta ganti rugi sebesar Rp 10 ribu ke Furqon,” jelas paman korban Akrom beberapa waktu lalu.

Kemudian, Furqon memberikan uang ganti rugi kepada korban. Namun, orangtua Furqon tak terima karena dimintai uang oleh Riyan. Sehingga, Jaelani mendatangi Riyan ke sekolahnya dan memukul hingga memar.

Akibatnya, Riyan mengalami luka memar dibagian wajahnya. Pasca kejadian Riyan sempat trauma dan diakui tak sadarkan diri di rumahnya.

Reporter : Ryan Hariyanto
Editor : Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.