Petugas kesehatan dari Puskesmas Camplong saat mendatangi Jamilah, Selasa (6/11/2018). (Ryan Hariyanto/MM).

Sampang, (Media Madura) – Sungguh miris nasib Jamilah, bocah 12 tahun ini diduga menderita penyakit layaknya gizi buruk. Kondisi tubuhnya sangat kurus kering keronta. Diyakini, berat badan bocah yang diketahui yatim piatu itu kurang dari 10 kilogram.

Video saat petugas kesehatan mendatangi kediaman Jamilah ini pun viral di beberapa media sosial gruop WhatsApp.

Saat ditelusuri mediamadura.com, Jamilah merupakan warga Dusun Le’nande, Desa Banjar Tabuluh, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Ia didatangi langsung oleh Kepala Puskesmas Camplong dr Hendri, bersama petugas kesehatan lainnya.

Bocah berusia 12 tahun itu ternyata hidup sebatang kara, setelah kedua orang tuanya meninggal dunia dengan kondisi sama kurus keronta. Kini, dia hanya tinggal bersama pamannya, Wahed (40).

Meski dirawat oleh pamannya, Jamilah hanya diberi asupan makanan bubur. Maklum, keterbatasan ekonomi membuat Jamilah terus terbujur lemas. Tanpa ada kepedulian dari pemerintah.

“Yang peduli hanya tetangga sekitar, pamannya saja yang merawat disini tidak punya istri, jadi gak tahu gimana cara merawat anak,” terang dr Hendri dihubungi mediamadura.com, Selasa (6/11/2018) malam.

“Saya mendapat informasi sejak kemarin dan tadi pagi pukul 09.00 WIB sampai di rumah Jamilah di Dusun Le’nande Banjar Tabuluh,” imbuhnya.

Hasil pemeriksaan sementara dari petugas kesehatan, bocah perempuan kelahiran tahun 2006 itu kemungkinan mengalami infeksi paru-paru atau tuberculosis (TBC). Namun, bisa jadi mengarah kepada penyakit Bronkitis.

“Secara pastinya akan ketahuan besok karena Jamilah rencananya Rabu (7/11) dibawa ke rumah sakit Sampang, karena kondisinya tidak memungkinkan jika dirawat di rumah atau di puskesmas,” ujarnya.

Hendri mengatakan, dirinya sempat mengecek apakah pasien mengalami HIV dan ternyata negatif. Pemeriksaan penyakit yang bisa menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh ini sengaja dilakukan didasari rasa kecurigaan. Sebab, meninggalnya kedua orang tua Jamilah dengan tidak wajar. Yakni, kondisinya sama-sama kurus.

“Apa kurang gizi atau tidak belum paham, diyakini kondisi tubuh kurus ini hanya kurang asupan gizi ditambah didalam tubuhnya ada infeksi, sekarang kita sudah memberikan Jamilah susu Pan-Enteral sebagai makanan suplemen gizi,” tuturnya.

Berdasarkan keterangan paman Jamilah, Wahed, bahwa kondisi keponakaannya terbujur lemas sudah lama. Kala itu, Jamilah masih berada di Surabaya. Jamilah baru seminggu berada di kampung Banjar Tabuluh.

“Kami awalnya benar-benar tidak tahu karena sudah lama di Surabaya jadi baru seminggu di Sampang, semua keluarga baik orang tua dan adiknya meninggal, tapi keluarga tidak menyampaikan sudah berapa tahun yang sakit,” ungkap Hendri.

Saat dikonfirmasi dibalik telepon Kepala Desa Banjar Tabulih H Radin mengakui Jamilah dan Wahed merupakan warganya. Menurutnya, Jamilah memang sakit turunan dari orang tuanya sejak berumur 2 tahun.

“Orang tuanya memang sudah meninggal itu (Jamilah-red) sakit turunan kok, saya sudah mengetahui informasi ini dan sudah dilaporkan kepada pemerintah daerah melalui Dinas Sosial,” terangnya.

Sayangnya, Radin justru tidak tahu jika Jamilah akan dibawa ke rumah sakit Sampang. Bahkan, ia berdalih jika tidak ada satu pun yang pernah memeriksa kondisi kesehatan bocah yatim tersebut, termasuk dari Puskesmas setempat.

“Kayaknya tidak ada yang ke rumah Jamilah tadi, kalau besok pasti masih di rumah Jamilahnya,” dalihnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.