Pamekasan, (Media Madura) – Kepala Desa Larangan Tokol, inisial S dilaporkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Pamekasan, Madura, Jawa Timur oleh warganya sendiri, Selasa (23/10/2018).

S, dilaporkan atas kasus dugaan penggelapan bantuan beras miskin (Raskin). 

Indikasi penggelapan Raskin di Desa Larangan Tokol sudah berlangsung lama, terhitung sejak tahun 2009. Menurut data yang ada, penerima Raskin berjumlah 862 Kepala Keluarga (KK).

Aturanya, setiap KK sesuai pagu Raskin yang ditetapkan oleh pemerintah seharusnya menerima Raskin ukuran 15 kilogram setiap bulan.

Namun faktanya, Raskin yang didistribusikan kepada keluarga penerima manfaat (KPM) hanya 3 sampai 4 bulan sekali, itu pun dikurangi menjadi 5 kilogram. Parahnya lagi, penerima dimintai uang tebusan sebesar Rp 8 ribu.

“Tiga bulan sekali itu masih belum rutin. Kadang enam bulan sekali selama 2009 sampai 2016. Dan, dari 2017 sampai sekarang kami hanya menerima Raskin sebanyak 3 kali,” terang salah seorang warga Desa Larangan Tokol yang tidak mau disebutkan namanya, Selasa (23/10/2018).

Selain itu, S diduga kerap menjual Raskin kepada mitra Bulog. “Kadang saat beras dari Bulog dikeluarkan, langsung dijual ke mitra Bulog dan juga menjual ke pedagang yang biasa mengoplos beras,” tambahnya.

Dia membeberkan, saat terjadinya praktik jualbeli Raskin, karung asli Raskin diganti dengan karung lain, merek lain pula.

“Nantinya oleh para penadah ini, beras Raskin yang dibeli setelah keluar dari Bulog ada yang dioplos dan diganti sak merek lain, baru mereka jual ke pasaran,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Kajari Pamekasan Tito Prasetyo melalui Kasi Intel Sutrisyono berjanji akan mengusut tuntas kasus ini. “Kami akan memanggil KPM untuk meminta klarifikasi tentang kasus itu,” tutupnya.

Reporter: Zubaidi
Editor: Zainol

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.