Sampang, (Media Madura) – Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sampang Eny Muharjuni, melalui Kabid Perikanan Budi Daya, Moh Mahfud, mengatakan usaha budi daya ikan di wilayahnya itu memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Setiap tahunnya, produksi terus tumbuh bahkan penjualan ke sejumlah daerah mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Tahun ini, Pemkab Sampang menargetkan 965 ton produksi ikan budi daya. Sebab, tren produksi ikan budi daya terus meningkat setiap tahun. Pada 2016, sebanyak 550 ton. Tahun 2017, meningkat 50 persen dengan jumlah produksi mencapai 827 ton.

“Ya memang usaha budi daya ikan berpotensi besar dan produksinya terus mengalami peningkatan yang signifikan,” ungkap Mahfud, Jumat (11/10/2018).

Kendati demikian, pemanfaatan lahan untuk pengembangan perikanan budi daya belum optimal. Padahal, ada banyak jumlah lahan berpotensi yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan perikanan budi daya. Lahan tersebut bisa digunakan untuk budi daya ikan air laut, payau dan tawar.

“Kalau lahan perikanan budi daya ikan cukup luas, tapi belum tahu jumlah pastinya, makanya ke depan lahan yang berpotensi akan dimanfaatkan,” tuturnya.

Dia menyatakan, pengembangan perikanan dilakukan secara bertahap. Saat ini pihaknya masih fokus pada peningkatan produksi. Dia menginginkan tren produksi perikanan budi daya terus naik setiap tahun.

Dinas Perikanan kini melakukan upaya persuasif agar pembudi daya ikan membentuk kelompok untuk mengurus badan hukum. Sebab, tanpa badan hukum, tidak bisa mendapatkan bantuan.

Mahfud menjelaskan, kelompok budi daya ikan (podakan) di Kota Bahari berjumlah 60. Tersebar di Kecamatan Sampang, Sreseh Torjun, Omben, Jrengik, Camplong, Robatal, Banyutes dan Ketapang.

“Tetapi dari jumlah tersebut baru 23 kelompok yang berbadan hukum dan menerima bantuan, nanti kami akan fokus pada pengembangan lahan produksi perikanan budi daya dan pengelolaan tambak pencontohan sebagai media pembelajaran bagi pokdakan atau masyarakat yang ingin menjalani usaha budi daya ikan,” jelasnya.

Tambak itu, lanjut Mahfud memiliki luas 63,917 meter persegi yang menampung sekitar 30 ribu bibit ikan.Perinciannya, 20 ribu bandeng dan 10 ribu udang, dan dalam setahun bisa panen dua kali.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Sampang Syamsuddin menyampikan, tahun ini dinas perikanan mempunyai anggaran Rp 190 juta untuk program pengelolaan tambak percontohan budi daya ikan.

Oleh karena itu, Politikus Hanura itu berharap agar dinas terkait maksimal dalam mengelola tambak tersebut. Program yang dijalankan harus betul-betul dapat meningkatkan kemajuan usaha budi daya ikan di Sampang. Baik dari segi kualitas dan kuantitas produksi.

“Asas manfaat dari keberadaan tambak itu harus jelas, kami tidak ingin dalam pengelolaannya hanya menghabiskan anggaran, tapi tidak ada hasil yang nyata,” pintanya.

Menurut dia, selama ini pengelolaan tambak tersebut terkesan berjalan di tempat. Sebab, setelah program dijalankan, tidak ada upaya tindak lanjut dari dinas untuk bisa lebih mengembangkan sistem pengelolaan tambak yang diterapkan warga.

Syamsuddin menyarankan, agar pengelolan tambak menerapkan sistem Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA). Sistem itu merupakan teknologi perikanan budi daya dengan mengoptimalkan petakan tambak.

“Dalam satu petakan pembudidaya bisa memperoleh hasil produksi yang melimpah,” tandasnya.

Reporter: Ryan Hariyanto
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.