Pengrajin batik di Pamekasan

Pamekasan, (Media Madura) – Bertepatan dengan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober, sejumlah pengrajin di Kabupaten, Pamekasan, Madura, Jawa Timur mengeluh sepinya order.

Satu diantaranya ialah Abd Salam (25), pengrajin batik tulis asal Desa Kalampar Kecamatan Proppo tersebut mengeluh dan mengungkapkan harapannya kepada pemerintah setempat.

Ia berharap pemerintah untuk lebih luas lagi membuka pemasaran batik tulis agar produksi semakin meningkat.

Hal itu ia ungkapkan kepada Media Madura.com saat ditemui di kediamannya Selasa (2/9/2018).

“Pembeli batik tulis Pamekasan masih sepi terus masih banyak batik dari luar yang masuk ke Pamekasan sehingga merubah kualitas dan harga batik lokal sendiri. Padahal Pamekasan sendiri identik dengan batik tulis asli,” terangnya.

Dirinya meminta pemerintah setempat melakukan pengawasan terhadap batik luar yang masuk ke daerahnya, agar usaha batik asli Pamekasan tidak mengalami kemerosotan.

“Sekarang kita sudah punya bupati baru. Kami berharap pengawasan dari batik luar ini diperketat. Karena dengan adanya batik luar ini hanya merusak harga dan kualitas batik tulis asli Pamekasan,” ucapnya.

Sebelum adanya batik luar masuk ke Pamekasan tambahnya harga batik tulis asli bisa mencapai 60 sampai 70 ribu. Namun ketika Batik luar masuk para pengrajin sangat kesulitan menjual dengan harga yang layak.

“Beda lagi dengan batik tulis yang pengerjaannya sampai bulanan itu harganya ada yang ratusan hingga jutaan tergantung dari kualitas batik dan motifnya,” pungkasnya.

Reporter: Zubaidi
Editor: Ahmadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.