Ilustrasi kekeringan

Sumenep, (Media Madura) – Musim kemarau tahun ini diprediksi akan lebih lama dari tahun lalu. Berdasarkan prediksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Madura, Jawa Timur, akhir kemarau masih dua bulan lagi.

Kepala BPBD Sumenep, Abd. Rahman Riadi menuturkan, prediksi awal Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) seharusnya September ini sudah masuk musim penghujan, tetapi hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan turun hujan.

“Kalau rilis BMKG awalnya musim kemarau sampai September. Tetapi mungkin akan lebih lama, bisa sampai Oktober atau November,” tuturnya, Rabu (19/9/2018).

Menurut Rahman, sebagai konsekuensi, jika masa musim kemarau bertambah, wilayah yang mengalami kekeringan juga dipastikan bertambah pula. 

Saat ini, di Sumenep sudah ada 27 desa di 10 kecamatan mengalami kekeringan, sebanyak 10 desa masuk kategori kering kritis, 17 desa masuk kering langka.

“Untuk mengatasi persoalan bencana kekeringan yang melanda sejumlah desa itu, otomatis kita terus melakukan droping (suplai) air bersih, sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Oleh karena hal itu, pihaknya sudah mebgajukan dan saat sudah disetujui anggaran tambahan untuk mengatasi persoalan kekeringan tersebut, jumlahnya mencapai Rp 40 juta.

“Alhamdulillah, ada anggaran tambahan untuk mengatasi kekeringan sebesar 40 juta. Kalau yang sebelumnya, anggaran yang untuk bulan Juni, Juli sampai Agustus itu 80 juta,” pungkasnya.

Reporter : Rosy
Editor : Arif

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.