Bibit tembakau Madura (Dok/MM)

Sumenep, (Media Madura) – Ajang silaturrahim tak selamanya harus dilakukan di rumah-rumah saja. Tetapi, juga bisa di tempat lain. Misalnya, di sawah atau ladang. Seperti yang terjadi di Desa Gadu Barat, Ganding, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Sabtu (16/6/2018).

Memang, umat Muslim pada umumnya, termasuk warga Gadu Barat masih dalam suasana Lebaran. Apalagi hari raya Idul Fitri 1439 Hijriah baru berlalu satu hari atau H+1.

Pantauan mediamadura.com, sebagian warga masih nyetel dengan baju barunya. Melanjutkan silaturrahim kepada sanak famili yang belum selesai dilakukan seusai Shalat Ied kemarin. Sebagian warga lainnya sibuk mengolah lahan alias bertani.

Warga yang ada di sawah, mereka rela melepas baju Lebarannya, guna mencari nafkah bagi keluarga. “Kalau diam saja di rumah, kami mau makan apa,” kata Ruslan (36), kepada mediamadura.com, Sabtu (16/6).

Meski demikian, suasana Lebaran tidak serta merta hilang dari mereka walaupun sibuk bertani. Silaturrahim tetap berjalan. Buktinya, bila mereka bertemu dengan petani lain saling bermaaf-maafan. Dan, uniknya salaman terjadi di tengah sawah.

“Kalau kemarin di Musala atau Masjid saat Shalat Ied tidak sempat ketemu, ya kalau ketemunya di sawah. Kebiasaan seperti ini sudah dari dulu ada,” tutur petani lain, Sulaiman (43).

Sulaiman menjelaskan, memang tidak semua keluarganya turun ke sawah. Karena suasana masih Lebaran, dirinya yang ke sawah. Sementara istrinya, Muslimah (58) standby di kediamannya.

“Kalau ada tamu main Lebaran ke rumah, ya saya pulang dulu. Kalau belum waktunya istirahat, balik lagi ke sawah,” ujarnya.

Bibit tembakau yang sudah ditanam oleh petani

Lebaran kali ini, bertepatan dengan musim tembakau. Warga Desa Gadu Barat menganggap tembakau merupakan salah satu komoditas yang untungnya gede. Namun, di sisi lain, petani berharap cuaca bersahabat.

“Saya yakin semua petani berharap yang saya. Di mana kalau sudah dipanen untungnya besar. Paling tidak bisa melebihi modal yang sudah kami keluarkan. Tapi, paling penting berkah,” tuturnya.

Harapan lainnya, yaitu pabrikan tidak memainkan harga tembakau. Menurutnya, bertani tembakau adalah cara untuk bisa bertahan hidup. Diakui, sejak beberapa tahun terakhir harga tembakau kerap tidak berpihak kepada petani.

Di Desa Gadu Barat sendiri, tembakau baru ditanam. Bahkan, usianya tidak sampai satu bulan. Ada pula, petani yang baru membuka lahan untuk ditanami Daun Emas, julukan tembakau bagi petani Madura.

Sebelum tembakau, lahan-lahan di wilayah itu ditanami padi dan sebagian kecil petani bercocok tanam jagung.

Reporter: Zainol
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.