Petani tembakau (dok/MM)

Pamekasan – Peran Industri Hasil Tembakau (IHT) di Indonesia cukup besar terhadap penerimaan negara melalui pajak dan cukai. Selain itu, kehadiran IHT juga memberi dampak positif lain, seperti penyerapan tenaga kerja, penerimaan dan perlindungan terhadap petani tembakau dan dampak ganda yang lain.

Sayangnya, gaung suara sumbang terhadap keberadaan IHT cukup nyaring. Padahal, pengembangan IHT juga memperhatikan kesehatan masyarakat, selain tetap mengusahakan agar industri dapat tumbuh dengan baik. IHT merupakan industri yang padat karya, sehingga sampai saat ini IHT dan keterkaitannya dengan hulu berupa pengadaan bahan baku,

khususnya tembakau dan cengkeh dan industri lainnya merupakan industri penyerap tenaga kerja yang potensial. Bahkan, Direktorat Bea dan Cukai (Siaran Pers, 3 Januari 2017) mengakui, pada tahun 2016, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar ± 9 % dari total penerimaan negara dari pajak. Sebuah angka yang cukup signifikan.

Mengapa keberadaan IHT dan perkebunan tembakau seperti anak tiri. Dari sisi kontribusi pajak cukup besar, namun keberadaanya selalu dinomorduakan, bahkan seperti tidak diakui. Padahal, sesuai dengan UU Perkebunan No.39 Tahun 2014, tembakau merupakan salah satu (dari tujuh) Komoditas Perkebunan Strategis Nasional, karena dinilai memiliki peranan penting dalam pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup.

Ketua Umum APTI, Soeseno menegaskan, komoditas tembakau sebagai tanaman
turun-temurun merupakan bukti bahwa pertanian tembakau bisa berkelanjutan, karena budidaya tembakau adalah realitas kultural.

“Sampai dengan saat ini, komoditas tembakau masih menjadi komoditas pilihan di saat musim kemarau, karena masih mempunyai nilai ekonomi tinggi dibanding dengan komoditas pertanian lainnya,” kata Soeseno.

Penelitian menarik pernah dilakukan Universitas Airlangga pada 2013. Hasilnya, dengan luas lahan yang sama (per hektare), penerimaan tembakau (Rp 53.282.874) lebih tinggi dibanding penerimaan dari pertanian jenis lain, seperti jagung (Rp 4.607.162), cabai (Rp 9.429.971), dan bawang merah (Rp 7.537.791).

Penelitian ini dilakukan di wilayah Lombok Timur, Madura, Jember, Temanggung. Sedangkan data untuk cengkeh diambil dari wilayah Pacitan, Sukabumi, Minahasa, dan Buleleng.

“Dari hasil penelitian tersebut, bisa dilihat fakta menarik, bahwa komoditas tembakau dan cengkih lebih menguntungkan dibandingkan komoditas lainnya,” ungkap Soeseno.

Sektor tembakau terbukti memberikan multiplaier effect yang signifikan dalam pembangunan Indonesia, selain kontribusi ekonomi ke negara, sektor tembakau juga terbukti menyerap tenaga kerja lebih dari 6 juta orang.

Soeseno menambahkan, dalam perkembangannya petani tembakau juga telah berupaya untuk menerapkan sistem budidaya pertanian yang baik dan sesuai dengan arah sasaran pembangunan berkelanjutan, mengingat pertanian tembakau lebih memiliki surplus ekonomi, sehingga menjamin kesinambungan investasi pada budidaya tanaman

selanjutnya. Laporan Brundtland dari PBB (1987) menyebut, pembangunan berkesinambungan adalah proses pembangunan baik lahan, kota, bisnis, masyarakat dan lain sebagainya yang berprinsip mencukupi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa depan.

Proses pembangunan berkesinambungan ini mengoptimalkan penggunaan sumber energi alam, sumber energi manusia dan iptek. Dengan menserasikan ketiga komponen selanjutnya sehingga mampu berkesinambungan. Seperti diketahui, target ada pembangunan berkesinambungan di antaranya:

• Mengatasi segala wujud kemiskinan di semua tempat(baik desa, kota dan lain sebagainya)

• Memastikan pendidikan yang layak, memiliki kualitas dan inklusif dan juga mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang

• Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan

• Mengakhiri kelaparan bersama dengan menggalakkan pertanian berkelanjutan, meraih ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi.

• Memastikan akses energi yang terjangkau, mampu diandalkan, berkesinambungan dan modern

• Mengurangi kesenjangan baik di dalam dan antar negara

• Membangun infrastruktur yang kuat, mempromosikan industrial berkesinambungan dan mendorong inovasi.

• Mempromosikan pertumbuhan ekonomi berkesinambungan dan inklusif dan juga lapangan pekerjaan yang layak bagi semua orang.

• Mengambil cara penting untuk melawan pergantian iklim beserta dampaknya

• Menghidupkan kemitraan dunia dan manfaat pembangunan berkelanjutan

• Mendorong masyarakat yang adil, damai dan inklusif.

• Mengelola hutan secara berkelanjutan, melawan pergantian lahan jadi gurun, menghentikan dan merehabilitasi rusaknya lahan, dan juga menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati.

Peran petani, pertanian tembakau dan industri hasil tembakau yang cukup besar tersebut tidak berlebihan sekiranya, jika sektor ini searah dengan semangat pembangunan berkelanjutan.

Sudah semestinya jika para petani tembakau meminta untuk dilibatkan dalam penentuan kebijakan sektor tembakau, ada hak petani untuk memberikan masukan dalam proses penyusunan kebijakan yang memiliki dampak langsung terhadap petani.

Rilis

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.