Pengacara Yapasti (kiri), Yanto (kanan)

Sumenep, (Media Madura) – Sengketa  makam raja-raja Asta Tinggi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur kembali mengemuka. Itu setelah adanya insiden penolakan oleh Yayasan Penjaga Asta Tinggi (Yapasti) terhadap Yayasan Panembahan Somala (YPS). 

Awalnya, YPS rencananya akan mengadakan acara pengenalan kepala baru Penjaga Asta Tinggi serta pembinaan penjaga Asta Tinggi. Namun kedatangan mereka ditolak Yapasti lantaran tidak izin lebih dulu.

Akibatnya, ketegangan antara kedua kelompok Yayasan pun tak terhindarkan. Ketegangan terjadi persis di depan pintu masuk tempat makam raja-raja tersebut.

YPS yang datang membawa pengeras suara langsung melakukan orasi di depan pintu masuk bangunan yang tengah proses status cagar budaya tersebut.

“Kami datang ke sani bermaksud untuk menegaskan adanya struktur yang berhak mengelola dan merawat Asta Tinggi,” kata Ketua YPS, Mohammad Amin.

Dia mengklaim, yang berhak untuk mengelola Asta Tinggi adalah YPS, bukan Yapasti. Berdasarkan mandat langsung dari Raja Sumenep adalah YPS.

Versi pengurus YPS, keabsahan kepengurusan Yapasti untuk mengelola Asta Tinggi tidak sah. Karena prioderisasinya sudah habis sejak tahun 2016. 

“Kami sudah 10 tahun tidak diperbolehkan masuk (ke asta tinggi) dan selalu dihalang-halangi pihak Yapasti,” terangnya.

Sengketa kepemilikan dan penjagaan Asta Tinggi memang belum tuntas. Yapasti sebagai pihak yang saat menjaga Asta dengan YPS sebagai keturunan raja-raja masih saling mengaku sebagai tlyang berhak.

Kuasa hukum Yapasti, Farid Fatoni mengatakan aksi yang dilakukan oleh pihak YPS termasuk tindakan yang tidak beradab, karena kepemilikan dan penjagaan Asta Tinggi sudah jelas secara hukum positif. 

Karena sesuai dengan Keptusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/250/KPTS/013/ tahun 2008 pengelolaan dan status kepemilikan adalah Yapasti.

“Jadi, Yapasti secara sah mengelola sekaligus pemilik Asta Tinggi dengan adanya Mas Yanto sebagai keturanan Bangsawan,” jelasnya.

Apalagi, sambung Farid, telah dua kali YPS mengajukan permasalahan perebutan asta tinggi ke Pengadilan Negeri. Namun, uapaya tersebut ditolak oleh majelis hakim.

“Pada 2016 lalu, berkasnya dinyatakan NO (ditolak). Eh, sekarang datang dan mengungkit-ngungkit tanah percaton, apa maksudnya coba?,” tanyanya. 

Selaku pihak yang kini secara sah bertugas menjaga Asta Tinggi, kata Farid, pihaknya tidak akan segan-segan melaporkan pihak YPS ke pihak berwajib dengan tuduhan telah melakukan teror bahkan melakukan pemukulan ke salah satu anggota penjaga Asta. 

“Jadi, ke depan ada dua laporan yang akan kami layangkan ke polisi, selama satu bulan terakhir mereka (YPS) telah melakukan teror dengan mengirimkan preman, kemudian telah melakaukan pemukulan ke saudara Syaiful (anggota Yapasti),” ancamnya. 

Pantauan mediamadura.com di lokasi, untuk sementara, situasi Asta Tinggi sudah kembali kondusif, puluhan peziarah juga sudah bisa masuk dan mengaji dengan tenang. Namun, tidak menutup kemungkinan persoalan sengketa antara Yapasti dan YPS masih akan terus berlanjut.

Reporter: Rosy
Editor: Zainol

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.