Sumenep, 13/3 (Media Madura) – Keberadaan pendamping korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur masih jauh dari ideal, karena hingga saat ini jumlah pendamping baru lima orang.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Sumenep, R Herman Poernomo menjelaskan, Jumlah pendamping belum sebanding dengan jumlah masyarakat dan luas wilayah.

Menurutnya, Jumlah penduduk kabupaten yang berada di ujung timur pulau madura mencapai 1 juta lebih yang tersebar di 330 desa di 27 Kecamatan, baik daerah kepulauan maupun daratan.

“Saat ini baru 5 petugas, jumlah itu masih sangat kurang,” katanya, Senin, (13/3/2017).

Idealnya kata Ipunk, setiap kecamatan minimalnya terdapat satu pendamping. Sehingga dalam melaksanakan tugas bisa maksimal.

“Pendamping KDRT itu dibentuk mengingat jumlah kasus KDRT di Sumenep setiap tahun selalu mengalami peningkatan dan sulit mendapatkan keadilan lantaran harus berjuang sendiri,” jelasnya.

Selain itu, untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat guna menekan angka dan melakukan pencatatan setiap terjadi kasus KDRT di masing-masing desa.

“Mereka dibentuk oleh Dinas melalui SK Bupati,” sambbung Ipunk.

Namun, selain dilakulan oleh pendamping, sosialisasi itu juga dilakukan oleh petugas yang berada di UPT KB. Bahkan, saat terjadi kasus KDRT petigas di UPT juga dibebankan untuk turun dan melakukan pendataan serta pembinaan. 

“Kedepan kami akan berupaya untuk menambah pendamping KDRT,” tandasnya.

Reporter: Panji Agira
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan