Sumenep, 7/2 (Media Madura) – Puluhan warga Kecamatan Gili Genting, Kepulauan Giliraja Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menggelar unjuk rasa ke Kantor DPRD setempat,  Selasa (7/2/2017). 

Mereka mengadu soal pengeboran minyak bumi dan gas (Migas) oleh Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) yang beroperasi di perairan setempat. 

Eko Wahyudi dalam orasinya mengatakan, demo tersebut dilakukan karena warga setempat yang terdampak lantaran merasa tidak dilibatkan sejak awal.

“Kami selaku warga nelayan di Kepulauan Giliraja merasa dirugikan apabila HCML sampai beroperasi, karena menyebabkan aktiftas nelayan menyempit,” katanya. 

Eko yang bertindak sebagai salah satu orator juga mengungkapkan, saat ini HCML sedang melakukan eksplorasi, dan kemungkinan juga akan segera melakukan eksploitasi.

“Jika benar demikian, bagaimana dengan kami yang sedari awal tidak dilibatkan,” ucapnya ketus. 

Tidak sampai 15 menit berorasi di depan kantor DPRD, puluhan massa akhirnya diterima Komisi I di ruangannya. Mereka diminta menyampaikan apa yang menjadi keberatan untuk kemudian ditindaklanjuti. 

Usai itu, massa kemudian melanjutkan aksunya ke Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat dengan tujuan yang sama, yakni mengadu perihal pengeboran Migas yang dilakukan oleh HCML.

Sementara itu, saat dihubungi terpisah, pihak HCML mengaku, saat ini pihaknya sedang menyusun analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) untuk pengembangan lapangan MAC.

“Dan sebagai bagian dari tranparansi, HCML mengajak perwakilan tokoh masyarakat untuk duduk sebagai komisi AMDAL yang bertugas memberikan masukan agar dokumen AMDAL bisa komperehensif dan menyeluruh,” kata Head of Relation HCML, Hamim Tohari, Selasa (7/2/2017).

Disamping itu, pihaknya jiga sudah melaksanakan survey laut (marine survey) sebagai bagian dari penyusunan AMDAL, yaitu untuk mengetahui kedalaman, arus dan kondisi tanah bawah laut.

“Nah, hasil dari marine survey ini akan menjadi patokan dalam menentukan peralatan yang dipakai untuk pengembangan lapangan. Lapangan MAC terletak sekitar 25 km dari Pulau Giliraja,” bebernya. 

Tohari menyebutkan, dalam survey itu juga ada perwakilan nelayan yang diajak untuk berada diatas kapal sebagai saksi apabila ada kerusakan rumpon.

“Dan hasilnya tidak ada rumpon yg rusak akibat kegiatan tersebut,” sambungnya. 

Ditegaskan pula, untuk kegiatan marine survey nya sendiri juga sudah disosialisasikan kepada masyarakat.

“Sebelum survey dilakukan kita sudah melakukan pengamatan atau survey ke lokasi, dan tidak ada rumpon disana. Dan untuk dipahami, hasil pengamatan lokasi ini tertuang dalam berita acara survey yang ditandatangani Camat Gili Genting, yang menyatakan bahwa area survey clear dari rumpon,” tandas Tohari. 

Reporter: Rosy
Editor: Ahmadi

Tinggalkan Balasan